Tiba tiba agamaku jadi monopoli
Aku menjadi seperti jauh dari Tuhanku
Ada yang maju di depan
Berdiri berani paling depan
Mewakili kebenaran dari Tuhan
Mewakili kebenaran dari Tuhan
Membangun sekat
Sekat penentu mana yang paling benar
Mana yang paling salah ..
Agamaku menjadi monopoli
Aku seakan jauh dari Tuhanku
Merekalah yang kini paling dekat dengan Tuhanku ..
Merekalah penentu..
Penentu haram
Penentu halal
Penentu surga
Penentu neraka
Penentu salah
Penentu benar..
Mewakili kebenaran dari Tuhan
Benarkah hanya dengan sesederhana itu?
(10 Mei 2017, Satu hari setelah vonis 2 tahun untuk Ahok)
Rabu, 10 Mei 2017
Bangku Taman Belakang
aku siapkan dua bangku di taman belakang
menunggu jika suatu saat tuan pulang
pulang dengan setumpuk beban
di tengah-tengahnya ada sisipan kemarahan
.. kecurigaan
keraguan ..
aku siapkan dua bangku di taman belakang
siapa tahu tuan nanti pulang
bersedia duduk tenang-tenang
kirimkanlah sedikit waktu luang
mengingat lagi yang sudah diberi
mundur lagi melihat yang sudah dilewati
aku siapkan dua bangku di taman belakang
saat tuan nanti pulang
renung-renungi lagi
prasangka tak baik di hati
meragukan tak baik diterus-teruskan
tak usah diulang-ulang ..
bangku taman belakang
saat pulang
perenungan ..
..
jalan akan dilipat
atau tetap dibentang ..
pilihan di tangan tuan..
menunggu jika suatu saat tuan pulang
pulang dengan setumpuk beban
di tengah-tengahnya ada sisipan kemarahan
.. kecurigaan
keraguan ..
aku siapkan dua bangku di taman belakang
siapa tahu tuan nanti pulang
bersedia duduk tenang-tenang
kirimkanlah sedikit waktu luang
mengingat lagi yang sudah diberi
mundur lagi melihat yang sudah dilewati
aku siapkan dua bangku di taman belakang
saat tuan nanti pulang
renung-renungi lagi
prasangka tak baik di hati
meragukan tak baik diterus-teruskan
tak usah diulang-ulang ..
bangku taman belakang
saat pulang
perenungan ..
..
jalan akan dilipat
atau tetap dibentang ..
pilihan di tangan tuan..
Jumat, 17 Maret 2017
Anak Lelakiku
anak lelakiku
bersarung biru
ada liris liris cokelat
bergema gembira saat adzan tiba
ditarik-tariknya ayahnya pergi musholla
anak lelakiku
lahir dari lapis-lapis doa
dikelilingi tumpukan harapan
pelindung keluarga di masa depan
anak lelakiku
penitip baiknya nasib
pelipur kala beberapa harapan kabur
yang dilimpahi kasih sayang
berlipat lipat luas lebar dan tinggi
anakku
lelakiku
yang pulang dari musholla
bersarung biru
yang kujaga
untuk menjaga
bersarung biru
ada liris liris cokelat
bergema gembira saat adzan tiba
ditarik-tariknya ayahnya pergi musholla
anak lelakiku
lahir dari lapis-lapis doa
dikelilingi tumpukan harapan
pelindung keluarga di masa depan
anak lelakiku
penitip baiknya nasib
pelipur kala beberapa harapan kabur
yang dilimpahi kasih sayang
berlipat lipat luas lebar dan tinggi
anakku
lelakiku
yang pulang dari musholla
bersarung biru
yang kujaga
untuk menjaga
Sabtu Pagi
Hidup
itu harus ada yang kau kenang, Rum..
Tak
semua kenangan harus kau buang
Tak
semua barang harus kau kemas
Ada
kalanya ada yang harus kau simpan..
Rum,
Hidup
tak harus kau maknai keras
Hidup
tak harus kau jalani dengan berlari
Kadang
kala juri membolehkan kau berjalan
Pun
ketika kakimu tak sanggup, silahkan kau duduk sejenak
Rum,
Hidupmu
yang di belakang sesekali boleh kau tengok
Setidaknya
kau ingat kau dulu pernah penuh cinta
Bahagia
pernah singgah
Bahagia
versi dulu maksudku
Nanti
pasti kau akan temukan bahagiamu lagi
Bahagia
versi episode kini..
Rum,
Tak
selamanya kau harus berdiri dan mengepal-ngepalkan tanganmu
Menunjuk
semua dengan dendam
Lalu
membuang amarah
Lalu
kau jadi paling benar
Manusia
Rum..
Ada
salahnya juga
Ada
typonya juga
Manusia
bukan koran Rum yang selalu punya editor agar tidak salah
Apa
yang kamu pikir saat itu
Kamu
bertindak saat itu..
Rum,
Peluki
dulu kenangan lamamu
Ikhlaskan
apa yang salah
Ikhlaskan
apa yang benar
Ini
hidup Rum..
Jumat, 22 Juli 2016
Lahirlah Puisi
Pada kekasih yang kau resah
Lahirlah puisi
Pada hujan yang basah
Lahirlah puisi
Pada kasih yang tak tersampai rindumu
Lahirlah puisi
Pada kisah yang ditutup halamannya sebelum sampul akhir
Lahirlah puisi
Pada rasa tersisa
Tak bisa bersuara dan dibungkam
Lahirlah puisi
Pada gengsi yang mendaki-daki
Lahirlah puisi
Pada amarah yang tak lagi bisa kau tahan
Lahirlah puisi
Puisi tak lahir dari jiwa yang tentram..
Lahirlah puisi
Pada hujan yang basah
Lahirlah puisi
Pada kasih yang tak tersampai rindumu
Lahirlah puisi
Pada kisah yang ditutup halamannya sebelum sampul akhir
Lahirlah puisi
Pada rasa tersisa
Tak bisa bersuara dan dibungkam
Lahirlah puisi
Pada gengsi yang mendaki-daki
Lahirlah puisi
Pada amarah yang tak lagi bisa kau tahan
Lahirlah puisi
Puisi tak lahir dari jiwa yang tentram..
Nihil
Tuhan memberikanku ingatan yang buruk
Terlebih jika mengingat kau
Aku coba mengingat lagi
Kapan aku mulai mencintaimu
Memasangkan-masangkan kenangan
Dengan apa yang bisa kuingat sekarang
Nihil..
Lalu aku coba mengingat
Setidaknya ketika aku dulu pernah mencintaimu
Aku panggil lagi apa yang tersisa
Kucari kemana-mana yang ada
Nyatanya tak ada..
Nihil..
Lalu bagaimana ketika aku mengenang saat terakhir kita..
Saat terakhir harusnya mudah diingat bukan?
Yang ada ..
Gelap..
Nihil..
Tuhan memberikan ingatan yang buruk padaku
Terlebih tentangmu..
Terlebih jika mengingat kau
Aku coba mengingat lagi
Kapan aku mulai mencintaimu
Memasangkan-masangkan kenangan
Dengan apa yang bisa kuingat sekarang
Nihil..
Lalu aku coba mengingat
Setidaknya ketika aku dulu pernah mencintaimu
Aku panggil lagi apa yang tersisa
Kucari kemana-mana yang ada
Nyatanya tak ada..
Nihil..
Lalu bagaimana ketika aku mengenang saat terakhir kita..
Saat terakhir harusnya mudah diingat bukan?
Yang ada ..
Gelap..
Nihil..
Tuhan memberikan ingatan yang buruk padaku
Terlebih tentangmu..
Senin, 18 Juli 2016
Pulang
Perempuan..
Melangkah ia pulang ..
Dengan kekalahan
Pengakuan kesalahan
Bertumpuk penyesalan..
Penyesalan
Yang bukan saja hanya datang belakangan
Yang datang kadung terlambat...
Tak selamatkan apa-apa..
Melangkah ia pulang ..
Dengan kekalahan
Pengakuan kesalahan
Bertumpuk penyesalan..
Penyesalan
Yang bukan saja hanya datang belakangan
Yang datang kadung terlambat...
Tak selamatkan apa-apa..
Minggu, 29 November 2015
Balkon ..
suatu hari
kutunggu kau di balkon itu
dengan dua kursi
satu meja
dua cangkir kopi ..
suatu hari..
kutunggui kau di balkon itu
bacalah bukumu
yang bertumpuk tumpuk
aku sudi terbenam di lipatan halamannya
aku tak menganggu
janjiku seumur hidup adalah menemanimu..
suatu hari..
kutemani kau duduk di balkon itu
mendengarkan piringan hitammu
dari kursimu di sana kau berkisah tiap piringanmu yang punya kisah
aku mungkin tak akan sepenuhnya paham
aku tak akan pergi
janjiku di sisa waktuku adalah mendampingimu..
suatu hari..
kutunggu kau di balkon itu
tetap dengan dua kursi
satu meja
satu cangkir kopi
kau beranjak entah ke mana lagi
entah berapa lama lagi
aku tidak pergi
berkarib dulu dengan ngilu rindu ..
suatu hari..
kutunggu kau di balkon itu ..
dengan dua kursi
satu meja
dua cangkir kopi ..
menantimu kembali ..
Senin, 16 November 2015
Comblang Kopi ..
Aku mengaku padamu
Belasan puisi tentang kopi tuntas ku lukis
Tapi sebenarnya aku tak paham kopi
Aku tak tahu apa beda
Mochaccino
Cappuccino
Latte
Robusta
Kopi Aceh
Kopi Bali
Kapal Api
atau Nescafe
Bagiku kopi adalah kopi..
Ya cuma kopi..
Aku tak merendahkan derajatnya
Kopi bagiku adalah pertautan hati
Kopi adalah alasan agar aku bisa bertemu kamu
"Ngopi yuk.."
Kopi adalah alasan aku bisa berjalan
Menggenggam tanganmu
Sesekali mengamit lenganmu
Berjalan beriringan
Menselaraskan langkah
Menyandingkan hati
Kita ke kedai kopi
Kopi harusnya dianugerahi surga
Karena ia adalah jembatan bersua
Bersuanya rindu
Bersuanya cinta
Bersuanya resah
Bersuanya kisah
Bersuanya sedih
Bersuanya bahagia
atau ..
Bersuanya malu-malu
Pada perangkai perilaku
bernama kopi
aku bisa menamati wajahmu
matamu dan kacamatamu
senyummu
lalu deretan gigimu yang rapi
ada gingsul di sebelah kiri
Dengan comblang kopi ..,
aku mencintai
pada every single thing ..
pada every single time ..
Sayangku ..,
Jadilah yang terakhir ..
kuseduhkan kopi
merayakan setiap pagi..
Belasan puisi tentang kopi tuntas ku lukis
Tapi sebenarnya aku tak paham kopi
Aku tak tahu apa beda
Mochaccino
Cappuccino
Latte
Robusta
Kopi Aceh
Kopi Bali
Kapal Api
atau Nescafe
Bagiku kopi adalah kopi..
Ya cuma kopi..
Aku tak merendahkan derajatnya
Kopi bagiku adalah pertautan hati
Kopi adalah alasan agar aku bisa bertemu kamu
"Ngopi yuk.."
Kopi adalah alasan aku bisa berjalan
Menggenggam tanganmu
Sesekali mengamit lenganmu
Berjalan beriringan
Menselaraskan langkah
Menyandingkan hati
Kita ke kedai kopi
Kopi harusnya dianugerahi surga
Karena ia adalah jembatan bersua
Bersuanya rindu
Bersuanya cinta
Bersuanya resah
Bersuanya kisah
Bersuanya sedih
Bersuanya bahagia
atau ..
Bersuanya malu-malu
Pada perangkai perilaku
bernama kopi
aku bisa menamati wajahmu
matamu dan kacamatamu
senyummu
lalu deretan gigimu yang rapi
ada gingsul di sebelah kiri
Dengan comblang kopi ..,
aku mencintai
pada every single thing ..
pada every single time ..
Sayangku ..,
Jadilah yang terakhir ..
kuseduhkan kopi
merayakan setiap pagi..
Senin, 09 November 2015
...
aku ..
suka saat kita berseteru
aku suka melihatmu cemburu
lalu marah dan resahmu bersekutu ..
aku ..
senang saat kita diam
kau tampak menahan beban
yang sengaja kau simpan dalam-dalam
aku merasa menang..
aku seperti dalang menang
sebenarnya bukan menang..
sejatinya aku tenang..
aku kau perjuangkan..
terima kasih
aku mengeja kasih sayang ..
suka saat kita berseteru
aku suka melihatmu cemburu
lalu marah dan resahmu bersekutu ..
aku ..
senang saat kita diam
kau tampak menahan beban
yang sengaja kau simpan dalam-dalam
aku merasa menang..
aku seperti dalang menang
sebenarnya bukan menang..
sejatinya aku tenang..
aku kau perjuangkan..
terima kasih
aku mengeja kasih sayang ..
Selasa, 03 November 2015
Pelangi ...
Semalam..
Sebelum kau pergi..
Kau meminta dibuatkan puisi.
Ku tangkap sekilas rasa iri.
Pada puisi yang kubuat terdahulu..
"Kenapa dulu kau bisa membuatkan Ia puisi.
Mana buatku?"
Pagi ini aku menata imajinasi
Kubariskan kata-kata agar rapi
Supaya bisa manis kutulis di sini
Belum kutemukan kunci..
Aduh Sayang,
Rupanya menulis puisi tanpa resah itu susah
Aku tak tahu kenapa?
Kau tahu kenapa??
Begini begini...
Mari pagi ini dengan hujan yang tersisa semalam
Kita duduk dengan kopi..
Aku mau bilang..
Aku susah menemukan resah pagi ini..
Bagaimana bisa kutemukan resah..
Kau tiba..
Jawaban atas pertanyaanku sudah ada di depan mata
Bagaimana aku gundah..
Darahku dilimpahi bahagia membuncah
Tumpah ruah..
Meluap-luap..
Pada waktu lain..
Saat kau ada..
Bahagiaku berubah menjadi tenang..
Riak air hilang, senyap lalu diam.
Keseimbangan.
Dalam..
Kekasihku..
Sayangku ..
Penghapus resahku..
Tak ada yang bisa lagi kutulis di sini..
Kenapa harus iri dengan puisi..
Terima kasih telah datang..
Jalanku berpelangi..
Aku mencintaimu..
Aku telah mencintaimu..
Sangat ...
So...
Let's make it works, Dear!!!
Senin, 26 Oktober 2015
Lemari Rak
Tiap kali manusia bangun dari tidur paginya, saya yakin ada beberapa bangun dan sadar bahwa hari itu ada banyak persoalan yang akan dihadapi. Ada masalah kantor, teman, pasangan, anak, keuangan, mobil rusak, rumah atau masalah-masalah lainnya. Sebagian dari mereka ada yang bisa sangat santai untuk menghadapinya namun ada pula yang berhari-hari dikurung murung karena memikirkan persoalan yang tengah dihadapi.
Sama seperti yang lain, saya pun mengalami itu. Saya bahkan punya kecenderungan jadi orang yang gampang stress kalau menghadapi masalah, biasanya mood saya seharian bisa jadi jelek dan wajah saya pun cemberut dan galak. Hahaha. Jauh-jauh deh dari saya kalau saya kaya gitu. Tiba-tiba seperti petasan siap meletus aja..
Tapi pagi kemarin dalam perjalanan saya ke bandara Soetta, di bus saya banyak berpikir tentang apa yang saya pikirkan selama ini. Iya, kadang memang manusia perlu sesekali untuk keluar dari hingar-bingar dan duduk diam sendiri untuk melihat sesuatu lebih jernih dan tenang. Begini, saya melist pelan-pelan apa saja yang saat ini jadi pikiran saya. Lalu kemudian saya membayangkan satu-satu apa yang jadi paling saya pikirkan atau risaukan. Mulai terbayang.. Kemudian saya teliti lagi apa yang sebenarnya urgent untuk dipikirkan dalam waktu dekat. Nah, rupanya masalah yang urgent itu justru bukan jadi prioritas pikiran saya. Saya membayangkan dengan tersenyum dan berusaha mengikhlaskan satu demi satu apa yang alami. Mana masalah yang bisa saya berdamailah, mungkin begitu istilahnya.. Saya kemudian baru sadar bahwa apa yang saya risaukan itu adalah masalah yang sebenarnya tidak mempengaruhi hidup saya terlalu besar. Mungkin karena saya mikirnya 'baper' jadinya itu menguasai seluruh emosi dan perasaan.
Tiba-tiba di imajinasi saya, masalah-masalah itu berubah menjelma menjadi buku-buku yang berjajar di bagian atas rak. Lalu keluar dari dalam rak, melayang dan menata dirinya di bagian-bagian rak lain yang berada lebih bawah daripada posisinya di atas rak yang awal tadi. Saya bisa melihat jelas mana masalah yang pertama mau saya selesaikan, yakni buku yang berada di rak paling atas. Itu yang krusial. Lalu masalah kedua dan ketiga adalah buku-buku yang ada di rak bawahnya. Saya membayangkan itu sekali lagi dengan senyum dan saya agak lebih lega.
Yup, kadang besar atau kecilnya masalah itu rupanya kita yang mengatur "posisinya".
Kita yang memilih masalah mana yang seharusnya jadi prioritas atau sebaliknya mana yang diabaikan.
Bukan berarti masalah akan selesai saat itu juga.
Hidup jangan diburu-buru.
Disenyumi saja.
Diikhlaskan saja..
Pasti ada jalan keluar..
Sabtu, 24 Oktober 2015
Berkemas ..
mari berkemas..
memasukkan barang-barang..
mengkarduskan kenangan..
luka-luka diperban..
selamat pagi, entah siapa ..
memasukkan barang-barang..
mengkarduskan kenangan..
luka-luka diperban..
selamat pagi, entah siapa ..
Rabu, 21 Oktober 2015
Sore Yang Rindu
Suatu sore
Di tengah Jakarta
Perempuan itu mengenangmu
Mengenangmu setahun lalu
Mengenang semalam
Mengenang pagi tadi ..
Perempuan itu
Punya beberapa catatan
Berlembar-lembar tentangmu
Kau yang menuntunnya
Mendaraskan jarinya puisi
Satu bait tentang sedih
Bait lainnya tentang senang
Lalu sisanya rindu
Ia lah perempuan yang takut kehilangan
Di tengah Jakarta
Perempuan itu mengenangmu
Mengenangmu setahun lalu
Mengenang semalam
Mengenang pagi tadi ..
Perempuan itu
Punya beberapa catatan
Berlembar-lembar tentangmu
Kau yang menuntunnya
Mendaraskan jarinya puisi
Satu bait tentang sedih
Bait lainnya tentang senang
Lalu sisanya rindu
Ia lah perempuan yang takut kehilangan
Kita
Kita
Kadang sejalan
Sering pula tak berkesesuaian
Kita
Kadang beririsan
Namun tak jarang berada di persimpangan
Kita
Kadang sehati
Berulang kali tak harmoni serasi
Kita
Kadang beriringan
Lalu berujung berselisih paham
Namun tak bertemuTak mengakurkan ..
Kita
Kadang sangat berjalan seirama
Nyatanya tak juga selalu sama
Mungkin memang berbeda
Tak perlu dipaksakan sama
Kelak Ingatlah hari ini
Terakhir kali aku bersandar di lenganmu
Untuk pamit pergi
Agar tidak bertengkar lagi
Kenanganmu kusimpan rapi..
Kadang sejalan
Sering pula tak berkesesuaian
Kita
Kadang beririsan
Namun tak jarang berada di persimpangan
Kita
Kadang sehati
Berulang kali tak harmoni serasi
Kita
Kadang beriringan
Lalu berujung berselisih paham
Namun tak bertemuTak mengakurkan ..
Kita
Kadang sangat berjalan seirama
Nyatanya tak juga selalu sama
Mungkin memang berbeda
Tak perlu dipaksakan sama
Kelak Ingatlah hari ini
Terakhir kali aku bersandar di lenganmu
Untuk pamit pergi
Agar tidak bertengkar lagi
Kenanganmu kusimpan rapi..
Sabtu, 07 Juni 2014
menabung rindu ..
apa yang tak lebih menyenangkan selain saat kita akan bertemu?
aku suka melihatmu diam-diam dari balik kaca jendela rumah kopi.
saat kau menungguku..
aku melihat kau membawa resah.
ada pula gelisah..
tapi aku lebih banyak melihat rindu..
sejenak kuperhatikan lagi..
dari balik kaca jendela rumah kopi
kau mengaduk-aduk cangkirnya
padahal ku tahu gulanya sudah larut pada belasan menit yang lalu..
ah ya ya.. , kau tak sabar rupanya..
tapi aku lebih banyak lagi melihat rindu..
dann..,
ah siaalll kau melihatku ketika aku melihatmu..
ah sial, kenapa kau tersenyum dari balik kaca itu.
hampir saja, dengkulku ngilu..
baiklah aku melangkah menemuimu..
tak lama kita berhadapan..
tersenyum
lalu bertanya kabar..
dasar bodoh.., jelas kau tahu kabarku baik..
tidak pernah sebaik ini bahkan..
lalu kita bicara..
rindu luruh jadi butiran butiran kecil-kecil
lalu rindunya menguap di udara
kita tertawa..
lalu kemudian bicara
berbincang
berpisah.. yang lama..
iya yang lama sekali...
tak bertemu lama lagi..
tak bertanya kabar..
lupa..
kita..
menabung..
untuk kembali rindu..
aku suka melihatmu diam-diam dari balik kaca jendela rumah kopi.
saat kau menungguku..
aku melihat kau membawa resah.
ada pula gelisah..
tapi aku lebih banyak melihat rindu..
sejenak kuperhatikan lagi..
dari balik kaca jendela rumah kopi
kau mengaduk-aduk cangkirnya
padahal ku tahu gulanya sudah larut pada belasan menit yang lalu..
ah ya ya.. , kau tak sabar rupanya..
tapi aku lebih banyak lagi melihat rindu..
dann..,
ah siaalll kau melihatku ketika aku melihatmu..
ah sial, kenapa kau tersenyum dari balik kaca itu.
hampir saja, dengkulku ngilu..
baiklah aku melangkah menemuimu..
tak lama kita berhadapan..
tersenyum
lalu bertanya kabar..
dasar bodoh.., jelas kau tahu kabarku baik..
tidak pernah sebaik ini bahkan..
lalu kita bicara..
rindu luruh jadi butiran butiran kecil-kecil
lalu rindunya menguap di udara
kita tertawa..
lalu kemudian bicara
berbincang
berpisah.. yang lama..
iya yang lama sekali...
tak bertemu lama lagi..
tak bertanya kabar..
lupa..
kita..
menabung..
untuk kembali rindu..
surat untuk rumahku ..
surat ini kutujukan untuk rumahku..
rumah yang kutinggalkan dua tahun lalu
sudah lama tak berjumpa
tak bertegur sapa
tak pula menengok
tak pula aku bertanya kabar..
karena memang sangat tak ingin tahu..
rumahku..
pagi ini aku melintas di depanmu.
aku beranikan mata ini menatap
yang ada adalah perih hingga ke pembuluh darah
lalu menusuk hati.
penutup pagar yang mengangga..
debu di garasi..
kandang anjing di teras
sepeda roda tiga anakku..
berserak di depan ..
aku tak bisa bicara..
tercekat..
perih..
pedih..
ngilu..
rumahku..
tumpukan kenangan masa lalu..
jatuhnya sedih
kamarnya lara
tak ada cinta
gudang amarah
jelujur-jelujur dusta
jahitan ketakutan
lembaran trauma
gelap..
suram ..
bukan salahmu,
maka kutinggalkan sedih..
tak ingin ku ingat lagi..
aku meninggalkanmu..
ingkar pada janji bahwa kau dulu akan jadi surgaku..
rumahku, maafkan..
tulus dari hatiku..
sekali lagi maaf, aku meninggalkanmu..
sendiri..
rumah yang kutinggalkan dua tahun lalu
sudah lama tak berjumpa
tak bertegur sapa
tak pula menengok
tak pula aku bertanya kabar..
karena memang sangat tak ingin tahu..
rumahku..
pagi ini aku melintas di depanmu.
aku beranikan mata ini menatap
yang ada adalah perih hingga ke pembuluh darah
lalu menusuk hati.
penutup pagar yang mengangga..
debu di garasi..
kandang anjing di teras
sepeda roda tiga anakku..
berserak di depan ..
aku tak bisa bicara..
tercekat..
perih..
pedih..
ngilu..
rumahku..
tumpukan kenangan masa lalu..
jatuhnya sedih
kamarnya lara
tak ada cinta
gudang amarah
jelujur-jelujur dusta
jahitan ketakutan
lembaran trauma
gelap..
suram ..
bukan salahmu,
maka kutinggalkan sedih..
tak ingin ku ingat lagi..
aku meninggalkanmu..
ingkar pada janji bahwa kau dulu akan jadi surgaku..
rumahku, maafkan..
tulus dari hatiku..
sekali lagi maaf, aku meninggalkanmu..
sendiri..
Minggu, 25 Agustus 2013
lagumu..
aku tak menanyakan
dan tak ingin menanyakan
ketika kau tiba, kapan kau tiba
lalu menghilang begitu saja..
aku tak menanyakan..
tak pula ingin menanyakan..
mengapa malam itu kau membiarkanku sendiri di rumah kopi
duduk termangu sendiri
berteman cangkir-cangkir kosong
hampa..
tak ingin pula aku tahu..
mengapa kau meninggalkanku
setelah sebelumnya kau tinggalkan kenangan
kenangan yang bangkitkan lagi seakan nyata
ceritanya kau putar berulang-ulang
lalu aku berdansa di tengahnya
dan tetiba kau hentikan musiknya sekehendakmu..
akulah patung..
di tempat yang sama
lukanya sama
sakit perihnya sama..
tak berhak aku marah
tak berhak aku bertanya
"mengapa..?"
sungguh aku tak mau tahu apa yang terjadi..
kumohon.. jangan ulang lagi lagu itu..
dan tak ingin menanyakan
ketika kau tiba, kapan kau tiba
lalu menghilang begitu saja..
aku tak menanyakan..
tak pula ingin menanyakan..
mengapa malam itu kau membiarkanku sendiri di rumah kopi
duduk termangu sendiri
berteman cangkir-cangkir kosong
hampa..
tak ingin pula aku tahu..
mengapa kau meninggalkanku
setelah sebelumnya kau tinggalkan kenangan
kenangan yang bangkitkan lagi seakan nyata
ceritanya kau putar berulang-ulang
lalu aku berdansa di tengahnya
dan tetiba kau hentikan musiknya sekehendakmu..
akulah patung..
di tempat yang sama
lukanya sama
sakit perihnya sama..
tak berhak aku marah
tak berhak aku bertanya
"mengapa..?"
sungguh aku tak mau tahu apa yang terjadi..
kumohon.. jangan ulang lagi lagu itu..
Sabtu, 05 Januari 2013
Aku Ibumu Yang Kuat
Anakku..,
Akulah ibumu yg berada di sampingmu
Saat kau sehat dan kau sakit
Saat kau tegak dan saat kau jatuh
Lalu kutegakkan lagi..
Anakku..,
Akulah orang memelukmu
Menegakkanmu
Menyamakanmu bersanding sebanding dengan yang lain
Anakku..,
Akulah ibumu penjagamu
Akulah ibumu yang kuat
Yang tak akan jatuh
Yang berjuang sekuat tenaga
Demi melindungimu
Anakku..,
Akulah ibumu yang berkelimpahan kasih
Tempat bermuaranya sabar
Pencukup segala kebutuhanmu
Pemberi kenyang pada lapar dan dahaga tubuhmu
Tak ada terbandingkan dengan siapapun di dunia ini
Anakku..,
Akulah ibumu yang telah lebih dulu menelan takut
Sebelum takut itu kau baca
Hingga aku bisa menenangkanmu dan menyelimutimu dengan aman
Anakku..,
Tak ada pembanding kasihku dengan yang lain
Ada banyak sandiwara di luar sana yang dibungkus kepalsuan
Maka sadarilah kasih ibumu yg tulus
Hanya aku yang sabar
Hanya aku yang tetap tegar mencintaimu hingga kapanpun..
Anakku..,
Maka perlukah kau mencari sosok yang lain?
Yang tak ada apa-apanya
Yang hanya datang untuk membuat porak-poranda semua yang tertata
Yang tak punya andil apa-apa
Yang kelam, murung dan marah
Cukuplah dikubur dalam-dalam..
Tak perlulah sayang..
Akulah ibumu ..
Akulah ibumu yg berada di sampingmu
Saat kau sehat dan kau sakit
Saat kau tegak dan saat kau jatuh
Lalu kutegakkan lagi..
Anakku..,
Akulah orang memelukmu
Menegakkanmu
Menyamakanmu bersanding sebanding dengan yang lain
Anakku..,
Akulah ibumu penjagamu
Akulah ibumu yang kuat
Yang tak akan jatuh
Yang berjuang sekuat tenaga
Demi melindungimu
Anakku..,
Akulah ibumu yang berkelimpahan kasih
Tempat bermuaranya sabar
Pencukup segala kebutuhanmu
Pemberi kenyang pada lapar dan dahaga tubuhmu
Tak ada terbandingkan dengan siapapun di dunia ini
Anakku..,
Akulah ibumu yang telah lebih dulu menelan takut
Sebelum takut itu kau baca
Hingga aku bisa menenangkanmu dan menyelimutimu dengan aman
Anakku..,
Tak ada pembanding kasihku dengan yang lain
Ada banyak sandiwara di luar sana yang dibungkus kepalsuan
Maka sadarilah kasih ibumu yg tulus
Hanya aku yang sabar
Hanya aku yang tetap tegar mencintaimu hingga kapanpun..
Anakku..,
Maka perlukah kau mencari sosok yang lain?
Yang tak ada apa-apanya
Yang hanya datang untuk membuat porak-poranda semua yang tertata
Yang tak punya andil apa-apa
Yang kelam, murung dan marah
Cukuplah dikubur dalam-dalam..
Tak perlulah sayang..
Akulah ibumu ..
Langganan:
Postingan (Atom)






