Sabtu, 03 Desember 2011

"Khusus Undangan"

Akhirnya kabar pernikahan anak lelaki bungsu presiden muncul di media. Setelah beberapa bulan yang lalu prosesi lamaran berlangsung, maka sesuai jadwal tiga bulan selanjutnya beranjak ke prosesi akad nikah dan resepsi perkawinan. Entah seperti apa kerepotan dan panjangnya persiapan pernikahan agung ini. Kalau masalah biaya biarlah ada bagian lain yang menghitung dan mereka-reka berapa miliar habisnya. Yang jelas tiga minggu lagi pernikahanan Abas dan Aulia akan jadi pusat perhatian seluruh negeri.
Bu Mariani duduk di kursi teras depan rumahnya yang asri di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Suasananya masih sejuk, semilir angin mengetuk udara pagi itu dan Bu Mariani dengan cerdas menangkalnya dengan secangkir teh manis di meja. Sebuah tabloid wanita yang baru dilempar loper koran dipungutnya dari halaman kemudian dibacanya seksama. Headlinenya edisi kali ini adalah tentang persiapan pernikahan putra presiden, Abas dan calon mempelai perempuan, Aulia. Dibukanya halaman pertama, kedua dan ketiga lalu seterusnya. Sesekali ia betulkan posisi kacamatanya agar bisa lebih jelas membaca. Agaknya ada informasi penting yang telah ia dapatkan dari tabloid. Selanjutnya ia melangkah ke ruang tengah, mengambil spidol di laci meja dan menghampiri kalender yang tergantung di dinding dapur. Tanggal 26 November ia lingkari bulat sempurna, tanggal resepsi pernikahan Abas dan Aulia, putra presiden.
Usianya memang sudah sepuh, 65 tahun namun fisik Bu Mariani masih sehat dan ingatannya kuat. Sudah lama ia menjanda, suaminya Pak Darmono seorang pejabat, meninggal enam tahun lalu karena menderita stroke dan diabetes. Pak Darmono suaminya dahulu adalah menteri keuangan dalam kabinet pemerintahan beberapa periode silam. Saat suaminya menjabat inilah mereka “menabung” tanah luas dan beberapa rumah megah, salah satunya ya rumah asri nan luas di kawasan Sentul yang kini ia tempati. Ia hanya tinggal bertiga dengan Prapti, pembantunya dan Lukman, si sopir. Bu Mar memilih untuk tinggal sendiri meski seorang putranya yang ada di Jakarta sudah berulang kali membujuknya untuk ikut bersama keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bu Mariani hidup dari transferan uang pensiunan almarhum suaminya dan usaha kayu peninggalan keluarga yang berada di Jepara, Jawa Tengah. Sesekali untuk membunuh bosan, bu Mariani masih aktif bergabung di arisan istri-istri mantan menteri yang sebulan sekali rutin diselenggarakan di Jakarta atau terkadang luar kota yang biasanya dilanjutkan dengan acara tour. Isu-isu di balik layar tentang rumah tangga para pejabat pun tak pernah absen dari radar pantauannya. Tak jarang kadang jika istana mengadakan acara pengajian atau acara yang melibatkan istri pejabat maupun mantan pejabat, bu Mariani diundang. Intinya ia masih (merasa) eksis di kancah pergaulan ibu-ibu pejabat dan mantan pejabat negeri ini.
*
Pintu kiri lemari pakaian di kamar bu Mar sepintas memang mirip pintu lemari keramat. Pasalnya pintu ini jarang dibuka dan hanya dibuka di saat-saat tertentu ketika bu Mar akan menghadiri acara penting. Deretan baju muslim dan kebaya buatan desainer ternama tergantung rapi di lemari ini. Harganya jelas tidak murah, ada yang hingga belasan juta. Untuk selera bu Mar memang tak diragukan lagi, ia tipe istri pejabat yang tahu betul bagaimana berpenampilan berkelas atas. Baginya penampilan adalah cara penting untuk mengangkat martabat dan menjaga nama baik dirinya sepeninggal suaminya yang telah tiada. Ia tak mau dicap sebagai istri pejabat yang merana dan nelangsa setelah sang suami tak lagi menjabat dan tiada. Toh memang begitu kenyataannya, bu Mar tak pernah kekurangan uang dan namanya disegani di kalangan ibu-ibu pejabat.
Sebuah kebaya brokat coklat keemasan dengan payet bu Mar turunkan pelahan dari gantungan. Payetnya memang hanya melingkar-lingkar di motif-motif tertentu namun itu justru menjadi peanggun kebaya ini. Anda tahukan kadang hiasan payet terlalu ramai justru bikin ‘ndeso’. Siapapun tahu bahwa kebaya ini berkelas dan mewah. Dibaliknya kebaya itu depan belakang, diteltitinya dengan seksama tiap detail kebaya tersebut. Seulas senyum kebanggaan terpancar dari wajahnya menatapnya. Ini kebaya termahal miliknya dan sangat ia sayang dan dieman-eman.
“Prapti....”
“Nggih bu...”, suara Prapti dari ruang tengah terdengar menghampiri bu Mar yang ada di kamar.
“Tolong kamu dry cleankan kebaya ini. Bilang orangnya hati-hati.. iki kebaya larang (mahal)”
”Diagem (dipakai) kapan bu?”
”Kalau bisa minggu ini jadi, arep tak gawe minggu ngarep (saya mau pakai minggu depan)”
Prapti tak banyak bicara, ia ambil dengan hormat dan hati-hati kebaya tersebut dari tangan bu Mar. Ini titah penting bahkan sangat penting, artinya harus segera dilaksanaken maksudnya dilaksanakan..
*
Dua minggu lagi resepsi akan digelar dan bu Mar makin sering mengintip pagar depan rumah. Tiap kali ada orang yang berada di balik pagar, bu Mar menjadi lebih seksama memperhatikan. Tak jarang ia sendiri yang menghampiri untuk menanyai maksud keperluannya padahal sebenarnya tugas itu biasa dilakukan Lukman, sopirnya. Nampaknya memang ada yang ditunggu dan yang dinanti adalah kurir pengantar undangan pernikahan Abas, putra bungsu presiden. Prapti dan Lukman agak terheran-heran dengan tingkah laku sang nyonya besar namun mereka hanya bisa menebak-nebak sendiri tentang kegalauan bu Mar.
”Prapti..”
”Inggih bu?”
”Kebayaku wes (sudah) diambil dari laundry?”
”Sampun (sudah), sudah saya gantung lagi di lemari
" Ya wes nek ngono. Prap, kamu sama Lukman sering ngawasi kalau ada orang nganter undangan ya ? Nek ada undangan resepsi nikah segera kabari.. "
"Baik bu.."
Lalu waktu berjalan merambat namun mengguratkan keresahan pada dada bu Mar karena sudah sepuluh hari ia menanti tibanya undangan perhelatan agung tersebut. Dalam hati ia mengkritik buruknya kerja kurir pengantar undangan yang dipilih istana mengapa undangan untuknya belum juga sampai. Lalu kemudian spekulasinya berkembang jangan-jangan pihak rumah tangga istana salah ketik alamat undangan untuknya atau mungkin tidak update alamat rumahnya di Sentul dan dipikir bu Mar masih menempati rumah di kompleks menteri di Widya Candra, Jakarta. Tapi rasanya tidak mungkin karena selama ini undangan-undangan acara lain bisa sampai sempurna ke rumahnya. Lalu apakah pihak istana lupa mengundang bu Mar ? Rasanya juga tidak biasa dan baginya kemungkinan terakhir ini kecil sekali. Bagaimana mungkin istana tak mengundang orang penting seperti dirinya, ingat jasa almarhum suaminya yang dulu jadi menteri keuangan dua periode dalam kabinet !!. Rasanya mustahil.
Diangkatnya gagang telefon dengan perasaan berat. Tapi rasanya keresahan di dalam hati bu Mar harus segera mendapat jawaban. Tak terasa perhelatan resepsi pernikahan agung tinggal tujuh hari lagi dan bu Mar harus memastikan apakah ia memang diundang atau tidak. Kalau iya mana undangannya, kalau tidak mengapa ia sampai tak diundang. Dipencetnya tombol nomor telefon yang sudah ia sangat hafal, sekian detik kemudian di ujung sana suara dering telefon rumah bu Wahyuni berdering. Bu Wahyuni, istri mantan menteri kehutanan yang menjabat pada periode yang sama dengan pak Darmono.
"Hallo, bisa bicara dengan jeng Wahyuni ?"
"Iya, saya sendiri. Ini siapa ? Mbak Maryani ?"
"Lho masih inget suaraku tho Dik?"
"Iya, wes suwi mbak Mar iki nggak telefon. Ono opo mbak?"
"Dik Wahyuni apa sudah terima undangan resepsinya Abas?"
"Sudah mbak, seminggu yang lalu. Mbak Mar yo diundang tho?"
"Ohh..engh..Iya dik aku yo diundang", Bu Mar agak gugup mengatur jawabannya.
"Terus kenapa mbak? Mbak Mar mau rawuh (datang) sama siapa?"
"Eee anu paling ya sama Panji, anakku. Ya wes Dik nek ngono, mengko tak sambung maneh ya (ya sudah kalau begitu nanti saya sambung lagi)"
Telefon berakhir dengan tanda tanya di kepala bu Wahyuni di ujung sana sementara bu Mar merasakan kebingungan tak berujung. Dipandanginya foto besar dalam figura ukiran keemasan yang tergantung di dinding di hadapannya. Foto bu Mar bersama almarhum Pak Darmono yang tersenyum gagah dan berwibawa sementara dirinya berada di samping kiri tersenyum penuh keanggunan. Diingatnya masa suaminya ketika masih menjabat sebagai menteri keuangan adalah masa keluarganya berjaya di posisi atas. Betapa banyak kemudahan dan juga ‘rejeki’ yang menghampiri keluarganya karena baik suaminya maupun bu Mar sangat dekat dengan keluarga presiden. Lalu masa pemerintahan berganti hingga akhirnya pak Darmono bukan lagi siapa-siapa dan tak lagi duduk di kursi menteri, bu Mar meneguhkan prinsip pada keluarganya bahwa harkat dan martabat keluarga harus dijaga sampai mati. Jangan sampai keluarganya jadi tertawaan keluarga pejabat lain ataupun rakyat kebanyakan karena tak lagi menjabat ataupun makmur. Lalu saat ini mewujudkan visi misi itu adalah dengan cara memperoleh undangan resepsi Abas Aulia. undangan itu meski hanya selembar berjuta maknanya dan salah satu makna pentingnya adalah keluarganya masih dianggap sebagai keluarga terhormat dan penting di negeri ini. Kalau sampai tidak, ini tamparan keras bahkan teramat menyakitkan.
Pergulatan batin demikian hebat terjadi di dada bu Mar. Ia ganti menelfon anak sulungnya Panji.
"Nji, Ibu nggak dapat undangannya Abas"
"Mungkin belum diantar Bu", jawab Panji enteng.
"Nggak Nji, ibu nggak dapat. Ibu tadi wes telefon bu Wahyuni, bu Wahyuni bilang sudah dapat seminggu lalu. Iki mesti ibu nggak diundang. Kalau diundang harusnya undangannya wes nyampe"
"Ya sudah Bu, memangnya kenapa? Malah enak tho Ibu nggak perlu nyumbang-nyumbang, desek-desekan. Itu nanti yang datang rame Bu", jawab Panji sekenanya. Ia mewarisi sikap bapaknya yang cuek dan agak ceplas-ceplos, sifat yang justru kebalikan dari bu Mar yang perfeksionis.
"Eh Le kok iso lho kamu ngomong gitu. Penting itu Le undangan itu. Ini masalah martabat,Nji. Iso isin sak keluarga kalau kita nggak diundang .......", bu Mar berbicara panjang lebar tentang harkat martabat dengan rincian detail sedetailnya nan njlimet. Panji hanya mendengar sekenanya namun Ia baru sadar bahwa ia salah melemparkan pernyataan sensitif tentang undangan tadi pada ibunya. Ah jelas saja, Panji anak sulung yang amat mengenal sifat ibunya dan ia tahu betul untuk persoalan yang satu ini sang ibu tak bisa diganggu gugat.
"Ya sudah Ibu kerso(mau) nya apa?"
"Kamu coba carikan undangan Abas, harus iso dapat. Ibu iso isin Le kalau sampai nggak datang ke acara itu"
"Buat apa Bu ? Buat ibu ? Lha kalau memang tidak diundang ya gimana ?"
"Kudu iso pokoke,Nji. Buat Ibu undangannya biar bisa datang ke resepsi..", bu Mar bertutur penuh penekanan.
"Ha?", Panji berteriak kaget, badannya lemas namun tak kuasa menolak. Jika suaranya sudah begitu artinya ini titah penting dari Ibunda dan seperti biasa bisa panjang urusannya jika menolak.
*
Tinggal tiga lagi. Pemantauan pada pagar rumah Sentul tak kendur. Siapa tahu kurir yang terlambat mengantar undangan yang dinanti tiba. Jika tidak, bu Mar masih punya harapan terakhir yakni Panji, anak sulungnya. Selama ini Panji tak pernah mengecewakan jika diberi kepercayaan mengemban tugas dan bu Mar berdoa siang malam agar anaknya diberi 'petunjuk' untuk mendapatkan undangan resepsi pernikahan sang anak presiden yang tinggal sehari lagi. Maka benar adanya ungkapan bahwa manusia tidak boleh patah semangat apapun yang terjadi karena Tuhan bisa mengatur banyak jalan untuk mengabulkan doa umatNya. Rabu pagi telefon rumah bu Mar berdering.
"Bu, undangannya sudah dapat"
"Lho kok iso, Nji ?" suara bu Mar senang bercampur kaget.
"Sudah Bu pokoknya sudah dapat" Panji menjawab pendek dengan menyelipkan nada kesal bin datar.
Percakapan telefon tak berlangsung lama dan perasaan bungah bu Mar tak terkira meledak-ledak di dadanya. Persiapan selanjutnya adalah memastikan penampilan terbaiknya di acara resepsi mantu presiden yang tinggal sebentar lagi.
Sementara Panji di Jakarta menggeleng tak habis pikir dengan sifat ibunya yang tak kunjung berubah. Sifat ibu tercintanya tak kunjung bisa menerima kenyataan bahwa masa keemasan keluarganya telah berlalu dan memang saat ini mereka adalah keluarga biasa yang wajar jika luput dari perhatian keluarga presiden. Memangnya siapa ?
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Telefon sekretaris pak Dirut selasa malam kemarin sungguh tak terduga. Panji diminta mewakili pak Dirut yang tengah sedang berada di Eropa untuk hadir di resepsi Abas Aulia. Bukan pertama kali memang Panji yang menjabat sebagai Direktur sebuah BUMN yang bergerak di bidang perkebunan diminta mewakili Direktur utama pada beberapa kesempatan ketika pak Dirut berhalangan hadir. Namun acara mewakili yang biasanya jadi beban kali ini justru adalah anugerah tak terkira bagi Panji. Sudah berhari-hari ia putar otak kanan kiri untuk mendapatkan undangan ini, eh ndilalah (kebetulan) kok ya bisa dapat. Rabu pagi sopir dirut telah mengantarkan undangan itu ke rumah Panji dan masih kondisinya masih terbungkus rapi di plastiknya. Saking senangnya Panji menyuruh Ika, pembantu yang baru bekerja seminggu di rumahnya untuk menjamu sopir pak dirut sebaik mungkin.
*
Hari besar telah tiba. Sabtu sore nanti adalah momen penting tak hanya untuk Abas Aulia namun juga untuk bu Mar. Pagi-pagi ia telah berada dalam perjalanan di tol Jagorawi arah Jakarta. Sebelumnya Prapti pembantunya telah memasukkan beragam perlengkapan ke dalam bagasi mobil kecuali untuk kebaya keemasa mahal belasan juta yang digantungkan di baris kedua mobil.
"Prap, kabeh wes dilebokno mobil ? (semua sudah kamu masukkan ke dalam mobil?"
"Sampun Bu. Sepatu, make up, konde ada di bagasi. Kalau kebaya sudah digantung di dalam mobil"
"Wes yo berarti kabeh (jadi sudah semua ya) ?"
"Ibu menopo ngersake (apa ingin/mau) bawa baju kebaya satu lagi buat cadangan ?"
"Gak Prap. Kebaya iki wes sing paling apik".

Lalu lintas sangat bersahabat pagi itu. Tak butuh waktu lama menjangkau rumah Panji yang berada di Tebet, Jakarta. Panji sudah menanti di teras rumah kedatangan ibunya yang sedang senang. Panji sebentar mengenalkan ibunya pada Ika, pembantu barunya yang masih berusia tujuh belas tahun. Namun perkenalan itu tak lama setelah istri Panji, Ratih mengajak ibu mertuanya masuk ke dalam.
"Nduk, turunkan barang-barang Ibu, yo !. Itu koper ada di bagasi terus kebayanya ada di dalam mobil. Kamu siapkan buat nanti malam karena Ibu mau pakai", Bu Mar lalu melangkah ke dalam. Dua cucunya berebut cium tangan sang nenek. Jika nenek sedang gembira biasanya mereka akan diberi uang saku dan memang Bu Mar sedang gembira.
*
Acara akan dimulai pukul tujuh malam, estimasi perjalanan Tebet-Senayan, tempat resepsi dilangsungkan sekitar satu jam. Jaraknya sebenarnya dekat namun Panji sudah memperkirakan bahwa pasti nanti akan sulit mencari parkir mobil. Bu Mar dan Panji berarti akan berangkat pukul enam sore, setelah magrib. Bu Mar bersiap sejak pukul empat sore. Lidya, seorang penata rambut langganan dipanggilnya ke rumah untuk menata sanggulnya agar tampil memesona. Kalau masalah riasan tangan bu Mar tak kalah dingin dengan perias profesional, ia memilih merias wajahnya yang masih cantik di usia senja itu sendiri. Lidya berbagi cerita tentang kehidupan istri pejabat lain yang jadi langganannya. Tapi berbagi pembicaraan. Sejam berlalu waktu menunjukkan pukul lima sore, rambut bu Mar sudah rapi. Ia menyelipkan tip lumayan untuk Lidya yang membuat tampilannya cantik.
Panji mengisi perutnya sedikit dengan gorengan di meja makan. Tak lama lagi ia akan mengenakan baju batik lengan panjang yang warnanya senada dengan kebaya ibunya. Bu mar memakai jarit sampai ‘ninthing’ sebagai bawahan. Lama ia berkaca di depan cermin besar di kamar tamu, mengagumi motif jarit dan sanggulnya yang elok. Kurang kebaya cokelat keemasan yang akan membuat penampilannya sempurna. Ia akan sangat cantik malam ini, sama cantiknya kala suaminya dulu menikahinya. Bu Mar mencari kebayanya di kamar namun ia tak menemukan tergantung di balik pintu, dalam lemari atau pun di kasur. Di mana kebaya brokat cokelat emas kebanggannya itu ?

Pintu kamar diketuk, muncul Ika di balik pintu.
"Bu, ini kebayanya ….", Ika berbicara lirih, gemetar dan tertahan..
"Iyo, endi kebayaku, Nduk"
"Anu Bu kebayanya.. anu.. kebayanya gosong pas saya setrika".
"Hee… kok iso…"
Ika menuturkan bahwa ia tadi diminta menyiapkan kebaya untuk dipakai malam ini. Ika yang ingin mengambil hati bu Mar berinisiatif menyetrika kebaya tersebut. Rupanya kebaya brokat cokelat keemasan yang sedari dulu aturannya tak boleh disetrika, benar-benar tak tahan dengan suhu panas. Hanya beberapa detik kebaya itu hangus membentuk motif setrika pas tepat di bagian dada.
Bu Mar hanya sayup-sayup menerima penjelasan itu, kepalanya berat dan mendadak pandangannnya silau lalu berujung gelap, lemas lunglai lalu pingsan. Bu Mariani, istri almarhum Pak Darmono mantan menteri keuangan batal hadir di resepsi pernikahan putra presiden, Abas dan Aulia.

[[end]]

Selasa, 18 Oktober 2011

Jangan Bosan, Sayang ...

aku harus menulis Sayang
karena ada banyak yang akan kuungkapkan
bahwa aku sangat mencintaimu
namun jika aku di hadapanmu
aku hanya bisa bilang kalimat yang itu-itu saja..
"aku sayang kamu.."

padahal sebenarnya Sayang
aku bosan dengan kalimat itu
karena selalu berulang dan menjadi biasa saja ..
ah brengsek, terlalu monoton memang kosakata yang bisa kurangkai jika aku di hadapanmu
dan sialnya hanya kalimat itu yang mewakili..

izinkanlah aku menulis Sayang.

dan aku sudah menulis sebait
kuhapus lagi
kutulis lagi sebait baru
yang ada hanya kalimat murahan tak bermakna
tak juga mampu mewakili..

aku tak tahu apa yang harus aku tulis

damn

siang ini aku tak lagi puitis..

lagi-lagi harus menyerah dengan kalimat itu
kalimat yang mewakili semua perasaanku padamu..

aku sayang kamu..

jangan bosan sayang..

Sabtu, 08 Oktober 2011

Kau adalah merah jambu ...

dahulu cinta adalah lembaran terselip
yang sembunyi di antara dedaunan hijau serta kuning yang meranggas
yang mungkin akan terbang sewaktu-waktu
ketika disapa angin

aku bertanya
apakah memang cinta selalu beranak resah
apakah setia adalah berkarib dengan gelisah
apakah akan selalu bersanding dengan biasa

namun cinta padamu adalah cahaya
cahaya binar binar pengantar senja
merah, kuning, jingga

cinta darimu adalah tawa
tawa yang renyah dan berulang setiap pagi
obrolan yang tak hanya berakhir di warung kopi
namun selalu bersambung bersambung dan terus..

kita tak pernah habis topik
tak pernah bosan bercerita
tak pernah alpa cinta

kau adalah cinta jingga
bukan yang mendayu dan sayu
bukan yang mengarak tangis untuk pembuktiannya

kau adalah jingga ceria
yang akan memberi warna hidupku
cerah
indah...

Sabtu, 17 September 2011

Titip Rindu untuk Alya ..

17 September 2011

Untuk anakku, Rameyza Alya…

Selamat malam sayangku, anakku, belahan jiwaku, cintaku, seluruh hidupku yang bernama Alya. Malam ini mama ingin berkata padamu bahwa mama sangat merindukanmu, Sayang. Bukan karena kita tak berjumpa, bukan karena alphanya waktu namun betapa sulitnya mata kita bertatap, betapa rumitnya apa yang ada di pikiranmu dan di pikiran mama beriringan dan berada dalam satu simpul.

Sayangku Alya,
Mama kangen kamu, Nak. Mama ingin kita berbicara, bisa mendengar satu sama lain. Satu kata saja Sayang, satu kata saja tak mengapa. Alya anakku mama ingin larut dalam pikiranmu, Nak. Mama rela asing di luar sana namun bisa menemani berdua dalam imajinasimu, kita senang sedih tertawa bersama. Bukan seperti ini ketika kau terasa asing sendirian di mata kami sementara kadang ketika semua memanggilmu tak juga kau mendengarnya.

Anakku tersayang,
Tahukah kau bahwa aku mencintaimu? Mencintai hingga dalam urat nadi, hingga celah-celah darah? Merasakah kau nak hangat kerinduan mama untuk bisa bicara dan bisa kau mengerti. Apakah sampai selama ini pesan mama bahwa aku mencintaimu sayang, sangat sampai di hatimu?

Manisku..,
Malam ini ketika kau menangis dan mama berusaha menjelaskan dan bertanya padamu lalu tak memperbaiki keadaan maka mama berada dalam titik terendah.
Tak ada yang lebih menyiksa mama ketika kau menangis namun mama tak paham apa yang kau inginkan. Tak ada yang lebih menusuk ketika mama ingin bicara padamu meski pelan mama mengucapkannya namun tak jua kau paham meski hanya sekedar isyarat.. maka saat kau berteriak, air matamu mengalir berbulir-bulir, wajahmu memerah maka saat itulah sesak di dada menghantamku bertubi-tubi. Sungguh mama ingin menenangkanmu, sungguh mama dalam imajinasimu ingin menjadi menemanimu dan menjelaskan menjawab kebingunganmu dan tak meninggalkanmu dalam tanda tanya yang menakutkanmu. Mama sudah bicara sayang, mama sudah membelai, mama sudah mencintaimu, mama sudah mendekapmu, semuanya sayang...

Sayangku,
Kumohon mengertilah.. sedikit saja sayang.. beri mama harapan bahwa kita akan benar jadi sahabat. Bahwa esok kita bisa bicara satu sama lain, tertawa, membanggakanmu, dan mama merasa berarti untukmu..
Maafkan mama jika selama ini tak bisa memahamimu. Tak bisa menerobos lapis kaca antara kita yang bernama autis. Mungkin belum Sayang, namun suatu saat nanti berjanjilah pada Mama bahwa kita akan bertemu di ujung lapis kaca ini dan tak lagi ada yg menghadang kita lagi untuk bersentuhan. Saat kau sadar bahwa mama adalah yang paling mencintaimu..

Mama mencintaimu sayang.. melebihi hidupku sendiri..

Selamat malam Sayang..
Mimpi indah malam ini.. mimpi yang menceritakan bahwa Mama mencintaimu dan akan kau ingat saat kau bangun nanti..

Selasa, 13 September 2011

Cukup cukupilah ..

Sayangku..
Terkadang kita harus terima ketika telapak tangan kita hanya mampu menggenggam bintang..
Meski mata kita terus tertuju pada matahari..
Syukuri sayang, karena bintang pun tetap akan benderang..

Sayangku..
Terkadang kita harus tersenyum ketika sebenarnya keadaan mendesakmu menangis..
Syukuri sayang, setidaknya mereka di luar sana tak menyaksikanmu bersedih
Kau adalah buah buah ketegaran

Sayangku..
Terkadang sayap kita hanya mampu berkepak hingga langit kedua atau ketiga..
Sementara pandanganmu memaksakan berada di langit ke tujuh..
Terimalah sayang, ini sudah cukup tinggi dibandingkan yang lain..
Bukan menyerah tapi ini adalah cukup..

Sayangku..
Tak semua sesuai rencana
Hanya yang terbaik yang membesarkan hati jiwa
Aku cinta kau
Tak ada kesangsian lain yg bisa kita raih
Namun tidak sekarang..

Aku masih cinta kau..
Cukup cukupilah kurangmu..

Senja ini kau ku dekap...

Rabu, 07 September 2011

Alya, Aku dan Autis ...



Bukan perkara mudah ketika sore itu suami saya menjelaskan bahwa Alya baru saja didiagnosa autis oleh seorang psikiater di Cikarang. Hal itu sebenarnya menjawab pertanyaan saya selama ini mengapa perkembangan komunikasi Alya terpaut jauh dengan kawan-kawan sebayanya. Namun sebenarnya bukan jawaban itu pula yang saya ingin dengar mengenai kondisi Alya.

Saya pedih, saya akui itu. Toh sejak delapan bulan lalu saya mengikutsertakan Alya pada sebuah terapi bicara pada seorang psikolog sebelumnya, saya tahu Alya memiliki kekurangan. Tapi saya saat itu sedang punya semangat yang besar untuk segera menyelamatkan Alya agar tidak terlambat mendapatkan penanganan. Sebuah yayasan tumbuh kembang di Cibubur yang letaknya tak jauh dari rumah mengatur jadwal terapi Alya seminggu tiga kali. Saya berbagi tugas dengan ayahnya Alya, dua hari saya yang mengantar sementara satu hari sisanya ayahnya Alya. Syukur alhamdulillah jadwal kantor bisa disesuaikan, atasan memberi pengertian yang sangat membantu. Di sisi lain sebuah tawaran pekerjaan lain yang cukup menjanjikan terpaksa harus saya tolak mengingat kondisi Alya yang butuh banyak perhatian.

Sebuah buku tentang autis memberikan banyak motivasi pada saya. Bahwa autis bisa ditangani dengan terapi yang dilakukan secara rutin dan dini. Bahwa anak autis kelak bisa tumbuh mengikuti anak normal dan tidak perlu dikucilkan. Autis bukanlah gangguan jiwa, berbeda dengan down syndrome dan lain sebagainya. Saya sangat bersyukur dengan membaca buku ini, ada rasa lega dan optimis yang meletup-letup mengenai kondisi Alya.

~

Lalu hari demi hari berjalan. Saya, ayahnya Alya dan juga seorang baby sitter di rumah sangat antusias untuk menjalankan terapi di rumah. Kami saling bekerja sama satu sama lain. Mulai menyikat tubuh Alya dgn sikat halus, memijat, memasakkan makanan dengan menghindari pantangan anak autis, main puzzle, ayunan, berjalan di rumput dan semuanya..

Satu kali terapis Alya mengatakan bahwa Alya menurut observasinya bukanlah anak autis melainkan lebih ke anak hiperaktif dan lambat bicara. Pernyataan itu sungguh sangat melegakan saya. Rasanya ingin berteriak girang bahwa anak saya tidak autis dan tak lama lagi ia akan bisa sejajar dengan anak normal. Mimpi saya tata kembali. Saya yakin Alya akan jadi anak berprestasi, bisa sekolah di sekolah favorit, punya teman banyak, bisa ikut ekstrakurikuler sesuai dengan bakatnya hingga kelak akhirnya saatnya ia bisa membuat saya bangga..

Seorang sahabat ikut berlega hati dengan cerita saya. Namun belakangan ia kemudian berkata "Saya senang Alya tidak autis tapi lebih baik kita persiapkan mental jika kelak dia memang autis. Kita tetap optimis tapi tidak juga terlalu sakit jika kondisi ke depannya berbeda dengan apa yang kita harapkan". Saya mengangguk, saya tahu itu, dan saya tak mau memungkiri jika kelak memang Alya autis dan bukan sekedar hiperaktif. Seiring berjalannya waktu akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa dalam penanganannya, saya tidak ingin memberi nama apa yang sedang dialami Alya. Saya tidak peduli dia autis, hiperaktif, telat bicara atau apapun. Karena ini akan mempermainkan emosi dan harapan saya yang bisa melambung tinggi namun ada kalanya bisa down. Yang jelas dan penting saya jalankan terapi sebaik-baiknya.. Sebisa saya..

Dalam perkembangannya apa yang ditunjukkan Alya cenderung menunjukkan bahwa ia adalah autis dan saya sepenuhnya tak mengelak itu. Baiklah kalau memang putri cantik ini autis, kita tangani sama-sama. Saya bisa sangat wise, sabar dan tenang ketika menghadapi Alya. Saya bisa sangat berbesar hati bercerita pada semua orang bahwa ya anak saya Alya penderita autis but she will be fine. Saya bisa tersenyum, tertawa dan juga menertawakan kondisi ini. Saya tidak mau menangis, air mata terlalu mahal untuk jatuh demi kondisi seperti ini.
Tapi saya manusia, saya ada fase lelahnya juga. Kadang persediaan sabar saya habis juga ketika lelah dan menghadapi Alya dengan tingkah ajaibnya. Beberapa kali tangan ini mencubit lengan, paha Alya. Beberapa kali saya berteriak menangis jika dalam kondisi lelah Alya menambah beban pekerjaan saya. Tapi selalu hal ini berujung mengharukan. Alya ketika saya marah justru menangis dan lari memeluk saya untuk minta maaf. Saya terenyuh dan justru makin tersayat karena muncul pertanyaan mengapa Alya baru care ke saya kalau saya sudah emosi? Haruskah komunikasi kami dimulai dengan cara seperti ini dulu baru Alya merasa membutuhkan saya?.

Saat Alya terlelap tidur dia tak ubahnya malaikat kecil yang sangat manis. Saya mendekapnya dan bertanya "Al, kamu ngerti nggak sih Nak kalau Mama sayang kamu? Ngerti nggak sih Nak apa yang mama omongin selama ini? Alya sayang mama nggak sih,Nak?"..

Saya bukan super mom, saya juga bukan malaikat atau peri yang punya stok sabar bergudang-gudang. Tapi memang akhirnya saya sadar bahwa menghadapi Alya bukan sekedar bentuk terapinya saja yang dipentingkan tapi bagaimana kesabaran kita tetap bisa terpompa, konstan terjaga, tidak menurun dan harus bisa menekan emosi.Itu yang sekarang sedang saya pelajari dan memang bukan hal yang mudah. Biasanya pelarian saya adalah dengan berbagi cerita dengan sahabat dan juga menengadah pada Tuhan. Ada kalanya saya butuh waktu sendiri untuk sekedar menenangkan tubuh dan juga pikiran yang penat.

Satu kali saya bertemu dengan seorang Ibu dan juga anak perempuannya yang berusia empat tahun. Sang anak bercerita panjang lebar dengan ceriwisnya sementara sang Ibu menimpali dengan senyum dan beberapa jawaban atas pertanyaan putri kecilnya..

Saya tersenyum dan berdoa.. Semoga kelak saya dan Alya bisa seperti itu. Berbagi cerita..

Alya, Mama sayang kamu Nak...

Minggu, 31 Juli 2011

kala aku tak bertuan ..

Aku tidak ingin berkata-kata
Karena hanya akan melingkar-lingkar
Ada kalanya kau dan aku harus sadar
Kadang apa yang ada di hati dan alam pikiran
Tak bisa diungkapkan oleh abjad maupun kata dalam kamus

Aku hanya ingin bersandar
Di bahu kecilmu
Maaf kali ini aku tak menyunggingkan senyum
Kau tahu galau merampas semuanya

Dari sandaranku saja terjemahkan sebisamu
Ada beban yg ingin kubagi
Terjawab mengapa mataku kosong beberapa saat ini

Aku tak minta banyak, Sayang
Peluk aku
Mungkin aku akan tenang
Atau justru menangis menumpahkan sesak
Dan memelukmu erat, pasrah ikut arusmu

Tak perlu kau berkata banyak
Terima saja sandaran kepalaku di bahumu
Artinya besar..
Kau legakan sesak di seluruh duniaku

Aku tak bertuan sekarang ..
Aku digoyang bimbang
Dan padamu aku diam
Minta dicarikan tujuan..

Senin, 25 Juli 2011

beku ...

aku bertatap denganmu
tak lagi kutemukan segaris yang sama
mungkin kabur benangnya
pun juga sirna

aku membangun hangat
di tengah beku yang membekap
namun sama saja
tak ada es yang cair meski setetes

aku tak mau tengadah harap
tak lama lagi aku berpura-pura
jika memang sudah beku
ya sudah
mungkin usai waktu

aku bukan penunggu, sayang
hidupku harus tetap berlanjut
dengan maupun tanpamu

anai-anai.. ilalang
masa depan tak bertuan
cinta tak menghamba
tawa tak berirama

beku sudah sayang..

Kamis, 02 Juni 2011

kelak ...

Kelak kau dan aku
Akan tinggal di rumah nyaman tenang
Berhalaman luas
Bermusholla di sampingnya
Tempat kau akan mengimami aku, anakmu dan cucu-cucumu..

Berderet pohon rambutan, jeruk, durian dan nangka nan rindang
Tak kurang waktu kita bersama
Berbicara sore di teras belakang
Sambil mengunyah buah hasil kebun kita
Bersama secangkir teh manis bercorak bunga..

Mungkin kau tak akan berhenti mendengar ocehan dan omelanku
Kau tahu sayang, aku sebenarnya tidak benar-benar marah
Aku peduli padamu

Mungkin kau akan diam tersenyum menyimaknya
Dan beberapa detik pelukan akan redakan semua suaraku
Berderai tawa kita
Aku tanya kau sekali lagi :
"adakah yang jauh lebih sempurna dari ini?"
Kelak tak ada kerut di dahimu..
Yg ada adalah penanda kau makin bijak
Makin tenang di sisiku..
Yakin berada di pijakan tepat..

Sayangku..
Tak ada lagi yg kucari..
Kau penutup segala kekurangan..

Kelak sayang, kelak ..

Selasa, 17 Mei 2011

tak beranjak darimu, alya..

Kenapa kau resah?
Bukankah aku di sini ..
Kenapa gundahmu tak terarah?
Bukankah hangatku masih merasuk hingga tulang darahmu..

Sudahlah sayang..
Kipas-kipasi pergi kunang remang
Usir buram resah temaram
Aku di sini
Sungguh tak beranjak..

Jangan menangis..
Jangan merintih..
Jangan mengeluh..

Mama di sini, Alya..

Minggu, 15 Mei 2011

Pagi..

apakah perlu aku meminta lagi pada Tuhan
kurasa tak ada lagi yang aku ingini
tak pernah sebelumnya ku temui pagi seperti ini
ini seperti sempurna..

sempurna ketika kau pagi di sampingku
berada di atas ranjang yang sama
lalu kilas-kilas matahari menerangi pipi, mata dan keningmu
tersipu malu mengintip dari tirai

aku terpaku dengan pemandangan ini
ketika mata itu berkedip terusik
badanmu mengelak dibangunkan matahari
menggeliat malas mengusirnya

kau tahu sayang..?
pagi ini pagi sempurna
tak terbeli oleh apapun
tak tercela setitik pun
tak tertukar dengan siapa pun..

"selamat pagi sayang, pagi ini aku masih mencintaimu"

Selasa, 26 April 2011

Sempurna sudah hidup ..

Ayo sayang..,
Kayuh sepedamu.
Kayuh sekuatmu..
Kejar aku..

Ayo sayang..,
Letupkan lagi semangat hidupmu
Yg dulu redup dan kini pijar bak mercu suar
Karena aku..

Raih tanganku..
Pupuskan ketakutan
Akulah tali tersampir untuk pegangan jiwa
Akulah arah dari segala penjuru angin
Apalagi yang kau cari?

Ayo sayang..,
Bentangkan tanganmu..
Selebar-lebarnya hingga lapang dadamu
Angin menyapa ramah menyapu kulitmu di belantara hijau
Ayo lari, lari..lari kita berlari..

Berlari tanpa arah..
Tertawa sekeras dan selepas-lepasnya
Hari ini tamat riwayat beban hidup
Aku lah pelapangmu..

Sempurna sudah hidup

Rabu, 13 April 2011

Tak pandai ku menulis

Aku tak pandai bercerita tentang gembira
Karena entah kenapa jemariku lebih lincah mengetik tentang duka
Entah mengapa pula sedih dan lara menggairahkan untuk ditulis
Bodoh bukan aku yang senang berkubang kelam..

Tapi kau harus tetap aku tulis..

Kau adalah cinta
Kau serupa bahagia
Kau sejenis buncah semangat
Kau pelangi abadi
Pembias cerah warna jingga, biru muda, merah..

Kesesakan menjadi lapang

Aku ingin mengabadikanmu dalam celah-celah manis dan rindu
Dalam letup-letup cinta yang membuncahi jiwa
Dalam titik hujan yang ikhlas menebas pedih tanah
Dalam samar pelita yang menghapus riak gelisah

Sebagai penenang riak-riak amarah
Sebagai sandaran ketika resah..
Sebagai penutup dari pencarian

Ah sayang, sudah aku bilang apa
Aku tak pandai menulis tentang bahagia
Mungkin tanganku, otakku diatur oleh hati
Hati tak ingin membaginya dengan yang lain
Pun dengan kertas, tinta dan tulisan

Aku akhiri tulisanku, Sayang...

Aku mencumbumu malam ini..
Itu menjelaskan semuanya..

Selasa, 15 Februari 2011

Rindu

harus aku kata apa tentang rindu
rindu yang belakangan ini makin kurang ajar
rindu yang kadang menghardikku
seperti anak kecil yang bergeliat dengan olok-olok

ah rindu ini..,
rindu yang menyesakkan dada
membekap nafasku pagi-pagi
bahkan sebelum aku bangkit dari pejam mata

rindu yang terkadang manis
seperti tiramisu cokelat krim legit
menaruh senyum di sela-selanya
karena kukenang saat kami tertawa

oh rindu ini..,
rindu yang amat sangat manja..
manja sekali dan kolokan..
yang harus aku tepuk-tepuk punggungnya
agar mau berdamai dengan pagi siang malam

mau apa aku bilang tentang rindu ini?
kadang berbalut jubah hitam
terkadang berjingkat-jingkat mengenakan piyama pink
membuatku geram dan gemas

ingin aku duduk berdiskusi dengan rindu
aku ajak bicara baik-baik
apa maunya dan sampai kapan membuntuti..

lalu rinduku menggoyang-goyang pundakku
mulai berbisik pelan, pelan sekali,
berujar aku harus bertemu kamu..

"aduh..."

Minggu, 30 Januari 2011

Nana ...

aku mencintaimu dalam lirik kata
aku mengagumimu dalam darasan kalimat
aku memujamu dalam manisnya puisi
aku berpaut dalam alinea-alinea..

dalam rangkaian abjad itu
sosokmu adalah yang memenuhi ruang imajinasi
namamu adalah yang melengkapi kekurangan
keberadaanmu adalah sepenggal sempurna

dalam pertukaran kabar dan cerita..
seakan kau yang kucari
rumah yang lama tak kusinggahi dan memanggilku pulang
segenggam nyaman..

aku buncah riang dalam rayumu
aku menari
meloncat tinggi
dalam semburat jingga cerita pena..

ah sayang.., sayang sekali
sua menghujam goncang
membaurkan sketsa nama

aku tandaskan sekali lagi..

aku mencintaimu (hanya) dalam lirik kata

Kamis, 27 Januari 2011

Menyandingmu

aku ingin meminangmu tiap pagi
meminangmu dengan kesungguhan hati
bahwa kaulah yang tercipta
dan terpasangkan denganku..

aku ingin merangkulmu
merangkulmu dengan keteguhan jiwa
tak ada tempat untuk ragu
karena kisahnya kau punyaku ..

aku memeluk dalam gerimis hujan
aku akan menuntunmu dalam ketidakmampuan
aku menyandingmu ketika dalam ketakutan
aku yang menjadi arahmu

rebahlah kau malam ini
berlanjut hingga esok pagi
seterusnya kau akan berada di sini
karena akulah rumahmu..
tempatmu mencari kembali..

berbijaklah sayang.
terima pinanganku kali ini..

kau untukku..