Jumat, 13 April 2012
Wishnutama ...
23.00 WIB, Tengah malam di tahun 2007.
Di kamar kos yang sempit, ketukan pintu membuyarkan lamunan sesaat. Saya intip jendela, rupanya teman sekamar saya Putri yang mengetuk. Tak lama ia masuk dan segera saya tangkap kelelahan yang teramat sangat di wajahnya.
“ Capek aku, Mil. Gila tugasnya banyak banget hari ini terus ini masih ada tugas yang harus selesai besok pagi”
“ Suruh ngapain, Put?”
“ Itu suruh koreksi dan kasih masukan kelebihan dan kekurangan program produksi di Transtv. Ya mana aku tahu?”, Putri lalu menghela nafas panjang.
“ Ya wes, ndhang kerja’ no..” (ya sudah cepat kerjakan).
Sejenak Putri diam, suaranya kemudian terisak, “.... Aku nggak betah di Trans. Ini mau cari kerja tapi kok diperlakukan kaya gini. Masa kalau nggak bener ada yang disuruh push up, tadi ada yang disuruh lari keliling air mancur di halaman Transtv “.
“Siapa yang nyuruh Put?” tanya saya agak terkejut.
“ Ada tadi.. Pak Tama”.
Saya tahu orang yang dimaksud adalah Wishnutama, Direktur Operasional Transtv. Tak lama suara Putri tercekat, ia menangis..
Putri adalah teman seangkatan saya di kampus saat kami kuliah di Surabaya. Kami sama-sama bekerja di Transtv, bedanya saya masuk saat tahun 2005 ketika saya masih di bangku kuliah sementara Putri masuk angkatan 2007 saat ia baru lulus. Demi mengirit pengeluaran lalu kami memutuskan untuk kos sekamar dan hidup dengan berhemat maksimal. Untuk anak yang baru masuk di Transtv mayoritas harus mengikuti Broadcast Development Program atau yang sering kami sebut BDP. Saya BDP 5 dan Putri masuk BDP angkatan 7. Sekitar enam bulan kami dibekali ilmu tentang dunia pertelevisian dan juga tugas yang menumpuk dalam pengawasan disiplin tinggi. Salah satu potret yang bisa ditangkap adalah apa yang dialami Putri barusan. Di sini kami yang tidak saling mengenal, beda usia, beda daerah, beda keyakinan, beda disiplin ilmu dilebur menjadi satu kesatuan keluarga satu angkatan. Tidak ada yang lebih pintar, tidak ada pula yang lebih bodoh, semuanya sama.
Saya masuk divisi news dan Putri masuk divisi Produksi. Di divisi Produksi pengawasan langsung dipantau oleh Pak Wishnutama. Namanya adalah salah nama yang legendaris di gedung Tendean. Namanya bersanding sejajar dengan nama Ishadi SK, Direktur Utama Transtv dan Chairul Tanjung, sang owner. Wishnutama, pemimpin yang masih muda dan di anak-anak baru ia juga tersohor karena menerapkan sistem disiplin bak militer. Saat itu hanya itu saja yang saya tahu..
Selama enam bulan mengikuti BDP 5 di Jakarta saya kemudian ditugaskan ke Surabaya untuk menjadi reporter di sana sembari saya diberi kesempatan melanjutkan kuliah. Tahun 2007 setelah lulus, saya ke Jakarta lagi bertugas di Transtv Jakarta. Belakangan saya baru tahu bahwa seseorang yang memerintahkan saya kembali bertugas ke Transtv Jakarta adalah Wishnutama..
*
Desember 2007 saya diberi tugas untuk menjadi salah satu pendukung acara ulang tahun Transtv di JCC. Sehari sebelum acara utama digelar seluruh pendukung acara diharuskan untuk mengikuti gladi resik di lokasi. Tim produksi sudah nyaris sempurna membangun panggung, lighting beberapa kali dicoba dan dikoreksi kembali, audio dites berulang-ulang dan semuanya dikendalikan dari ruangan kecil di bagian atas tempat duduk penonton yang biasa disebut sebagai ruang FOH atau Front of House. Dari atas panggung sepintas saya bisa melihat beberapa kawan dari divisi produksi bekerja di sana dan salah satu dari mereka adalah Wishnutama. Sang direktur operasional tak hanya menginspeksi, ia ambil bagian untuk menangani persiapan acara. Dengan sigap ia pegang kendali, memberi instruksi dan mengkoreksi flow rundown. Dalam hati saya bertanya kenapa harus Pak Tama yang turun langsung?
*
Kenapa saya sekarang menulis tentang Pak Tama? Saya rasa tak banyak momen seperti yang terjadi di April 2012 ketika timbul rasa kehilangan teramat besar saat Pak Tama menyampaikan kabar pengunduran dirinya dari Transcorp. Kabar yang cukup mengejutkan karena sosok Wishnutama seakan takkan bisa terpisahkan dengan perusahaan yang menaungi dua televisi TransTv dan Trans 7. Beberapa tahun berlalu sejak tahun 2007, Pak Tama saat ini mundur di puncak kariernya ketika menduduki jabatan sebagai Direktur Utama Trans Tv dan Direktur Trans 7. Tentu muncul pertanyaan mengapa ia pergi dan kemana ia akan melangkah dengan nama besarnya. Berbagai spekulasi muncul dari beberapa “pengamat dadakan” sesama kawan yang bekerja di televisi tentang Pak Tama. Mereka meramalkan Pak Tama akan ke tv ini, tv itu, bikin tv sendiri, bisnis ini dan itu bla..bla..bla.. Hebohnya kepergian Pak Tama bahkan tak hanya di lingkungan Transcorp namun juga di tv tetangga, seperti TvOne tempat saya bekerja. Beberapa orang memperbincangkannya. Entah apakah di beberapa tv lain juga sama. Saya sendiri tak terlalu tertarik dengan itu namun justru pada cerita lain tentang bagaimana besarnya rasa kehilangan sosok pemimpin di Transcorp. Mengapa harus ada kehilangan seorang Wishnutama? Apa yang istimewa darinya?
Selama saya bekerja di tiga televisi yang berbeda cerita tentang datang dan perginya atasan bukanlah hal baru. Namun yang berbeda adalah apakah kedatangan dan kepergiannya meninggalkan kesan (yang baik) atau tidak. Nyatanya berdasarkan ingatan, hanya sedikit nama yang mampu membekas selebihnya mereka berlalu seperti daun yang dihembus angin. Sedikit yang meninggalkan kesan dan menyisakan kehilangan. Ada pemimpin atau atasan saya yang ketika pergi, saya merasakan kehilangan dan jalan terasa pincang. Ada pemimpin yang saat ia pergi pun rasanya sama saja. Bahkan ada pula yang saat hilang justru “disyukuri” karena selama ini justru menjadi beban. Wishnutama pamit. Kepergiannya tak hanya menimbulkan pertanyaan mengapa dan kemana namun sesuatu yang lebih besar.
Saya dibesarkan di divisi news Transtv (2005-2008). Saya tak banyak berhubungan langsung dengan Wishnutama selama saya bertugas di sana jika dibandingkan dengan kawan-kawan produksi atau teman yang lebih lama bertugas di Tendean. Kendati begitu tiga tahun adalah waktu yang sangat cukup belajar mengenal budaya loyalitas tinggi, perfeksionis, disipilin, respek, kerjasama, kompetisi, hormat pada senior dan solidaritas. Kami sangat anti dengan kesalahan sekecil apapun karena layar kami adalah sempurna. Kami mungkin sesekali mengeluh namun untuk urusan layar kami melakukan segalanya yang terbaik. Pekerjaan bukan hanya ladang penghidupan namun juga tempat untuk menunjukkan seberapa hebat kami berkarya. Semuanya terbentuk tidak dalam waktu instan melainkan berproses dari waktu ke waktu dalam lingkungan kerja. Maka jika dirunut ke belakang saya akhirnya menyadari sistem itulah yang digariskan oleh senior terdahulu para pendiri Trans saat pertama kali terbentuknya Transtv dan berlanjut hingga sekarang. Dan di dalamnya ada otak seorang Wishnutama sebagai salah satu pendiri Transcorp.
Lalu saya kenang kembali memori 2007 tentang push up dan juga seorang Wishnutama di ruang FOH saat di JCC. Itu contoh kecil itu saya renungkan kembali dan akhirnya saya bisa dapat pelajaran besar dari sana. Bahwa kedisiplinan, perfeksionis, mau kerja keras adalah bekal mutlak ketika kita bekerja terutama dalam industri televise. Karya anda disaksikan jutaan orang dan bukan hanya proses bekerja antara anda, teman-teman anda serta atasan. Pak Tama mungkin orang yang mudah marah ketika pekerjaan tidak beres dan mengalami kendala, namun ia tak berhenti di taraf marah. Ia juga mampu memberikan solusi karena ia tahu masalah sebenarnya. Kenapa ia tahu masalah? Karena memang ia memulainya tahap demi tahap sehingga pantang untuk ’diakali’. Pak Tama sedikit contoh dari atasan yang mau turun pangkat mengambil alih pekerjaan yang seharusnya bisa ia delegasikan ke anak buah demi sebuah keberhasilan dan kesempurnaan.
Kehilangan Pak Tama mungkin bukan hanya pada sosoknya namun pada pelajaran dan juga ilmu yang ia bagi pada seluruh anak buahnya. Bukan hanya teori namun juga ia lakukan sendiri..
Good luck,Boss!! Sebuah kebanggan pernah bekerja dengan anda..
[[end]]
Minggu, 25 Maret 2012
Mimpi saya tentang Alya
"ma, aku besok mau pertunjukkan balet"
"emang ul il mau main apa?"
"black swan.."
"dimana kak pertunjukkan baletnya?"
"nanti undangannya ada kok.."
lalu gadis mungil itu tangannya di pinggang, megal-megol genit dengan perut buncitnya..
~
"ma, kita mau kemana?"
"ke gandaria city kak. mama mau beli baju blazer"
"nanti kakak pilihin ya?"
"pasti, makanya mama ajak kakak ikut"
"beli warna pink ma, biar bagus"
"pink ya kak?"
"iyah.."
"oke deh..."
toss.. lalu gadis mungil itu melanjutkan coletehannya padaku tentang teman-temannya di TK. sesekali nadanya agak lebay tapi sesekali ia berhenti karena kehabisan nafas dan ceritanya berlanjut lebih panjang.
~
"kakak kenapa nakal tadi di TK?"
"nggak ma, tadi Dio yang ganggu aku makanya aku pukul"
"jangan dipukul kak. kakak pergi aja nanti temennya pasti juga diam sendiri"
"tapi ma..."
~
"ma, pe er nya sulit"
"mana kak?"
"ini kan hitungan yang kemarin mama ajarin kak?"
"nggak tahu ma..."
~
mungkin saya gila tapi saya rasa saya belum cukup gila untuk terus bermimpi bahwa kelak anak saya Alya akan berbincang dan ngobrol seperti itu. sampai saat ini memang belum ada yang bisa ia utarakan meski barang satu katapun. saya tapi optimis kelak ia akan bisa bicara seperti anak lainnya. saya akan jadi ibu yang paling berbahagia di dunia ini jika esok alya bisa bicara dengan saya. apapun itu akan saya lakukan demi mimpi saya jadi nyata..
sekarang saya memang hanya bisa berkhayal. kadang Tuhan baik sedikit menyelipkan mimpi saat alya bisa bicara tapi itu jadi pelipur lara yang terbaik saat ini.
bismillah ya Allah..
Kau Maha Besar, Maha Pengabul Segala Doa..
Saya ingin alya segera bicara..
amin..
tak ada judul...
Tak ada yang terlalu tua dan terlalu dini untuk cinta
Maka tak ada yang terlalu pagi jika aku menghayal tentang kita
Ketika esok kau dan aku bersama dalam tua
Mungkin rasanya akan berbeda dengan sekarang
Namun kita tetap seirama
Kau harus tepati janji..,
Kita sepakat tinggalkan Jakarta
Maka masihkah kita memegang mimpi yang sama
Rumah di pelosok desa
Dengan halaman luas
Mungkin esok aku akan lebih tua darimu
Aku akan membaca dengan kacamata yang selalu turun di hidungku
Mataku pun tak lagi awas mengamati
Badanku pun tak lagi sekuat sekarang
Dan pasti aku akan langganan sakit masuk angin
Dan kau tetap setia padaku,
Merebuskan kacang dan ubi pengganjal perut
Atau memamerkan setandan pisang hasil kebun belakang
Mungkin juga kau akan komentar dengan politik yang tak berkesudahan
Sementara aku memilih menyimaknya dengan senyum
Kala tua nanti ...,
Kita mungkin berbeda
Namun kita akan makin seirama
Aku mencintaimu selamanya...
Batal Kencan
Matahari makin cepat saja meluncur ke bawah
Aku mulai resah
Pikiranku melayang pada tak kepastian
Seharusnya senja ini aku bersamamu
Rencananya di kepalaku kau ada di hadapanku sekarang
Apa boleh buat
Aku dianugerahi mulut pengecut
Tak berani mengaku
Tak juga bisa bicara jujur
Aku lebih nyaman bersahabat dengan dipendam
Ah sialan..,
Makin cepat saja malam menggeser siang
Senja terlalu singkat
Dan aku mulai mengumpat
Harusnya aku mengajakmu kencan
Dungunya aku, Sayang
Waktu berjalan di sebelahku dengan menghardik pedas
Sebelum kau besok pulang
Pulang ke tempat yang jauh
Mungkin akan lama berjumpa
Dan kita hanya bertukar kabar dengan kata-kata hambar
Ah, seharusnya sekarang kuberkencan denganmu
Menyentuh tanganmu meski hanya sebentar
Dan aku akan menatap matamu yang sering kuhindari
Sialan.., mustahil itu!!!!
Sekarung rindu dan rasa ini bertemu dengan kopi di cangkir..
Larut kutelan pahit-pahit
Kukenang bahwa esok kau tak lagi di sini
Sialan...,
Aku memang pengecut..
Harusnya kuberkencan denganmu sore ini..
Besok kau pergi pagi-pagi
Jumat, 16 Maret 2012
Celengan Minnie Mouse
Bentuknya tabung bulat kaleng setinggi dua puluh centimeter, di sekeliling sisi tabung itu dihiasi gambar dua Minnie Mouse berekspresi ceria nan genit berlatar belakang warna merah jambu berserta pernak pernik manis lainnya. Pada sisi atas tabung itu tertutup cat warna putih polos dan ada segaris lubang tepat di tengahnya. Itulah celengan anakku, celengan kesayangan, celengan harapan, celengan milik Alya.
Celengan itu bentuknya tak ada beda dengan celengan kebanyakan. Seingatku dulu aku membelinya saat belanja bulanan di sebuah hypermarket dekat rumah. Celengan itu tersusun rapi berserta celengan lain kawan-kawan sepabriknya dalam sebuah keranjang besar di tengah lorong terang. Di atas keranjang besar itu tergantung tulisan “OBRAL”. Aku memasukkannya begitu saja ke dalam troli belanja. Pikirku celengan ini bisa untuk mengajarkan Alya menabung sejak kecil. Di rumah memang sering bertebaran uang receh sisa belanja, kadang ada pula uang seribu atau lima ribuan rupiah kembalian uang tol atau parkir yang tertinggal di saku baju. Daripada tak berwujud sesuatu maka mungkin lebih baik uang uang kecil itu ditabung di celengan Minnie Mouse ini agar bisa terkumpul dan berguna di kelak hari. Namun nyatanya celengan Minnie Mouse ini artinya lebih dari itu..
*
“Anak kita autis, Bun” tutur suamiku sore itu. Ia menyampaikan kabar itu hanya beberapa saat setelah aku sampai dari pulang kerja. Pagi sebelumnya Ia memang membawa Alya, putriku untuk diobservasi ke seorang psikolog anak. Alya belum bisa bicara sepatah katapun di usianya yang ke 2,5 tahun. Sebagian orang menilaiku terlalu panik karena sebenarnya biasa anak kecil telat bicara dibandingkan teman-temannya. Namun ada yang berbeda dengan Alya, jika teman seusianya sudah lancar bicara susu, makan, minum, pipis maka seharusnya Alya minimal sudah bisa bicara “u..u, mam, num, pis” namun kenyataannya tidak. Artinya Alya tertinggal jauh dengan kawan sebayanya. Meski suka dengan keramaian anak-anak, Alya juga lebih senang bermain sendiri. Selama delapan bulan seminggu sekali kami mengantarkannya untuk mengukuti terapi bicara pada seorang psikolog anak. Aku pernah bertanya pada psikolog pertamanya apakah Alya autis, namun ia mengatakan tidak. Legalah hatiku ketika itu karena Alya hanya terlambat bicara. Namun ditunggu selama beberapa bulan tidak ada perubahan berarti. Hingga akhirnya suamiku memilih untuk mencari opini kedua dari ahli anak lain dan akhirnya hasil observasi menyebutkan bahwa putriku mengidap spektrum autis.
Kalimat itu sontak membuatku terpukul namun sore itu pula aku seakan tegar dan tak merisaukan hal itu. Suamiku menjelaskan bahwa Alya harus menjalani terapi minimal 6 jam di yayasan tumbuh kembang anak yang dibagi menjadi tiga hari. Aku berpikir apakah artinya aku harus mengundurkan diri dari pekerjaanku? Lupakan itu pasti ada jalan, sekarang aku dan suamiku harus bekerja sama jauh lebih kompak untuk membesarkan Alya yang saat ini memikul tas ransel bernama ‘autis’ itu. Sembari berusaha tegar, pikiranku melayang ketika masa kehamilan Alya. Rasa-rasanya tak ada yang berbeda dan permasalahan berarti ketika itu, suplai makanan bergizi dan susu kehamilan pun tak pernah kurang. Dokter kandungan pun menjelaskan bahwa Alya selama di perut bagus dan normal. Alya hingga usia setahun lebih pun tak ubahnya seperti anak normal biasa. Ia pernah memanggilku “mama” dan ia juga bisa menyanyikan lagi burung kakak tua, cicak cicak di dinding, naik kereta api meski baru huruf vokalnya saja. Artinya tak ada masalah penerimaan atau respon dari putriku Alya. Namun entah mengapa pelahan-lahan memorinya turun dan ia tak lagi bicara. Beberapa spekulasi teman yang pernah mendengar cerita tentang autis menduga ini mungkin ada hubungannya dengan sebuah imunisasi. Namun karena selama ini belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut maka keyakinanku antara ya dan tidak. Tapi sudahlah aku memilih mengakhiri perdebatan ini karena hanya akan menimbulkan penyesalan yang tak juga mengubah keadaan.
Lalu Tuhan menunjukkan jalan yang amat sangat lapang di tengah kabar Alya autis. Atasan di kantor tiba-tiba tanpa kuberitahu justru terlebih dulu memanggilku dan bertanya tentang kondisi Alya. Aku menceritakan semuanya hingga akhirnya aku mengajukan permohonan perubahan jadwal libur. Jika biasanya aku bisa libur Sabtu Minggu maka kini aku membutuhkan libur di hari Selasa dan Kamis. Di hari itulah aku bisa meluangkan waktu untuk mengantarkan Alya terapi. Sementara untuk terapi hari Sabtu, suamiku dengan besar hati yang akan mengantarkan putrinya. Jika ini disetujui selesai sudah masalah pengaturan waktu terapi di yayasan tumbuh kembang untuk Alya. Alya bisa mengikuti terapi seminggu tiga kali selama kurang lebih enam jam. Syukurlah dengan amat mudah kantor mengabulkannya.
Alya sangat disiplin terapi, jarang ia bolos terapi kecuali jika ada kepentingan yang penting sekali atau jika ia sakit. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan aku menyimpan harapan besar Alya bisa segera tertangani dengan baik dan ia beranjak maju dan meninggalkan ‘ransel autis’ itu. Jika sebelumnya putriku tak fokus memandang seseorang jika diajak bicara, pelahan ia mau menatap. Jika sebelumnya ia makan dengan tiduran di kasur, kini ia mau duduk di kursi anaknya selama ia makan. Kebiasaan berputar dan berjalan jinjitpun sudah ia tinggalkan dan jarang ia lakukan lagi. Perhatiannya pada orangtuanya pun meningkat berkali-kali lipat, ia sangat ingin berada di dekatku terus dan selalu haus perhatian. Memang merepotkan namun aku senang karena artinya Ia ada kontak dengan dunia luar dan tak terus sibuk dengan dirinya sendiri.
Namun masih ada yang sangat aku nantikan pada Alya, yakni ia bicara. Aku ingin sekali mendengarnya memanggilku mama, makan, minum dan menceritakan banyak hal apapun itu. Hampir selama delapan bulan terapi, belum ada tanda tanda Alya bicara jelas. Aku beranikan bertanya pada terapis Alya di yayasan tumbuh kembang anak mengapa Alya sampai saat ini belum juga bisa bicara. Terapis itu tersenyum, ia nampaknya paham benar dengan kerisauanku.
“Mama Alya harus sabar. Terapi ini tidak instan membuat Alya langsung bisa bicara. Terapi enam bulan itu perubahannya tipis, tipis sekali dari kondisi awal. Jalan menuju ke sana masih panjang.. kalau rutin pasti bisa...”.
Terapis itu lalu menjelaskan beberapa pasiennya yang terdahulu dan yang saat ini sedang ia tangani. Ada yang mulai bisa bicara pada saat usianya lima tahun ke atas, namun ada pula yang usia di bawah lima tahun sudah mulai bicara. Intinya perkembangan tiap anak berbeda.
“Alya harus fokus dulu, ini yang terpenting. Sekarang fokusnya masih lari-lari. Kalau dia sudah fokus baru nanti beralih ke terapi bicara. Terapi bicara adalah terapi yang nomor kesekian Mama Alya, yang penting fokus dulu”.
Aku mengangguk dan memahami penjelasan itu, sekali lagi saat itu hal ini tak banyak merisaukanku. Nampaknya ketika itu stok optimisku sedang banyak banyaknya. Namun apakah stok optimisku selalu penuh? Nyatanya tidak..
Namun sekuat apapun aku tegar nyatanya air mata tak bisa terus ditahan agar tak jatuh. Beberapa kali aku menangis, bukan menangis menyesali kondisi Alya namun aku rindu..rindu sekali mendengarnya bicara. Sepatah kata saja adalah hujan yang menyejukkan panas sekian lama yang ada di dada. Sore itu seorang anak perempuan seumuran Alya datang ke sebuah warung sea food dekat rumahku. Mereka duduk tepat di sebelahku. Tak lama setelah memesan makanan, sang anak perempuan ini mulai tak sabar.
“Kenapa pesananannya gak datang-datang?”
“Iya dik masih dimasak sama mamasnya”, Ibunya menjawab..
Aku mendengar percakapan keduanya, pikiranku melayang pada Alya dan bersamaan dengan itu air mataku luruh. Aku rindu putriku Alya di rumah, aku rindu saat ia kelak bisa bicara denganku. Jika saja Alya normal pasti ia sudah ceriwis dan banyak bicara padaku. Dan aku pasti akan jadi teman terbaiknya karena kami sama-sama doyan bicara dan tertawa. Inilah momen pertama yang menyadarkanku bahwa Alya yang memikul ransel autisnya bukanlah perkara yang mudah dan gampang dijalani. Ini akan jadi perjalanan panjang, sangat panjang dan terjal. Selain berpeluh keringat, mungkin akan ada air mata berulang kali luruh dan semangat yang terhempas.
Maka silih berganti momen bersama Alya aku jalani. Kami tertawa bersama namun ada kalanya ada sesak di dada yang harus dihadapi. Alya pernah bermain dengan tetangga teman sebayanya. Anak itu berulang kali mengajak Alya bicara namun Alya tak kunjung menjawab dan kemudian anak itu kesal lalu menjambak Alya dan memukul kepalanya. Alya hanya diam dengan wajah polosnya diperlakukan seperti itu oleh temannya dan sama sekali tak membela diri. Aku yang menyaksikan peristiwa itu segera menarik Alya dan menggendongnya menjauh. Alya yang dipukul diam saja namun rasa terpukul itu justru aku yang merasakannya berkali-kali lipat. Bukan marah pada kawannya tadi tapi aku seakan dibeberkan sebuah layar besar tentang apa yang akan dihadapi Alya dengan autisnya hari ini dan masa mendatang bahwa akan ada banyak yang tak bisa menerimanya dengan segala kekurangannya, bahwa mungkin akan ada teman-teman yang mengucilkannya, mengejeknya dan tak menerimanya. Aku mau tak mau harus sadar tentang itu..
Alya senang sekali dengan mall terutama yang lorong-lorongnya luas. Maka ia akan berlari dan berteriak kencang mengungkapkan dan meluapkan kegembirannya. Senyum dan tawanya akan menghiasi wajahnya jika ia sudah sampai mall. Lalu ia tertawa, berteriak dan berlari lalu...ia sampai pada sebuah ruang luas lalu ia berguling-guling di lantai mall. Sontak semua mata menyaksikan tingkah polah Alya. Ketika Alya masih kecil mungkin tak banyak yang heran dan melihat itu bentuk keriangan anak-anak biasa. Namun Alya sekarang hampir 3,5 tahun dan badannya sama dengan anak-anak seusianya yang sudah tahu bertingkah laku normal dan tenang. Maka kini sebagian orang yang mengamati Alya pun akan tahu bahwa ada yang berbeda dengan putriku ini. Untuk itu aku siap tidak siap harus tegar menghadapi tatapan heran dan pertanyaan di kepala mereka : “ada apa dengan Alya?”.
Sebagai pengidap autis Alya juga harus menjalani diet. Ia dilarang minum susu sapi dan makanan turunannya, ia juga harus berhenti mengkonsumsi terigu. Awalnya aku rasa gampang menjalaninya namun rupanyanya setelah didaftar banyak juga makanan yang harus absen dari Alya. Putri kecilku dilarang makan roti, mie, sirup, gula-gulan, keju, biskuit, bolu, cokelat, wafer, snack dan lain sebagainya. Padahal jika dirata-rata makanan anak-anak yang dijual di pasaran rata-rata adalah berbahan pantangan makanan Alya. Maka pemandangan miris adalah jika Alya menerima bingkisan ulang tahun temannya, ia hanya bisa mendekap bingkisan itu tanpa boleh memakannya. Kasihan sekali wajahnya, ia mungkin bingung mengapa ia dilarang sementara teman-temannya boleh.
Hal paling menyayat hati adalah ketika Alya punya mau namun ia tak mampu menjelaskannya. Ia terlanjur kesal dan marah hingga akhirnya menangis meraung-raung tak karuan. Mungkin jika ia menangis di dalam rumah tak terlalu masalah, namun jika ia menangis di tengah keramaian rasanya sedih ia jadi bahan perhatian orang dan seakan aku sebagai ibunya tak bisa memahami apa mau anaknya sendiri. Namun bagaimana aku tahu, Alya tak bicara sepatah katapun sampai saat ini.
Hingga suatu waktu aku merasa sangat down dan berada di posisi paling nadir dalam hidup. Aku tak yakin bisa membesarkan Alya dengan kondisinya seperti ini. Kuingat-ingat lagi dan mencari penyebab mengapa Alya autis hingga ada sebuah penyesalan besar mengapa tak bisa memutar waktu lagi. Terbayang bagaimana beban dan mendung gelap di waktu ke depan. Hingga akhirnya aku tiba pada suatu titik dimana sampai pada logika berpikir apa artinya kalau aku menangis terus seperti ini? Apa gunanya terus menangis dan seakan menarik semua orang untuk membagi kesedihan yang aku rasakan? Apakah mau terus menuai iba belas kasihan? Kalau itu yang dicari berarti ini aku berdosa pada Alya karena sebagai ibu aku justru tak berbuat apa-apa namun hanya stag berada di posisi depresi. Lalu aku membuat sebuah perjanjian sendiri dalam diriku. Oke, silahkan menangis jika memang ingin menangis karena memang itu manusiawi. Namun jangan bagi pada banyak orang kesedihan itu. Jangan lagi terlalu lama larut dalam duka karena Alya di sana menunggumu. Sejak itu plassss.... beban untuk membesarkan Alya menjadi jauh lebih ringan.
*
Aku merasa apa yang aku lakukan untuk mencoba menanggalkan ransel autis yang terus dipikul Alya belumlah maksimal. Maka suatu hari ketika aku berbicara perkembangan Alya pada terapisnya, ia menyarankanku untuk membawa Alya ke seorang dokter spesialis k tumbuh kembang anak yang biasa menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
“Tapi mama Alya jangan kaget ya, dokter itu antre pasiennya lama. Bisa sampai setahun”.
“Oh ya? Memangnya dokter itu metodenya seperti apa?”
“Nanti air seni, pup dan rambut Alya akan diambil dan dibawa ke Amerika untuk diperiksa”
“Gunanya apa?”
“Untuk tahu Alya kadar logam yang ada di tubuh Alya dan Alya alergi makanan apa saja agar gejala autisnya bisa dikurangi. Ada juga obat agar kandungan logam yang mungkin ada di tubuh Alya sebagai pencetus autisnya berkurang”
Aku tak pikir panjang dan tak menunggu lama segera mendaftarkan Alya untuk bisa berkonsultasi pada dokter spesialis kejiwaan anak itu. Sekali lagi Tuhan Maha Baik, pagi itu suster di rumah sakit tempat dokter tersebut berpraktik menjelaskan bahwa Alya hanya perlu menunggu lima bulan agar bisa diperiksa dan diobservasi oleh dokter tersebut. Meski termasuk lama, namun ini harus disyukuri karena pasien lain ada yang menunggu hingga lebih dari delapan bulan sampai satu tahun. Baru lega sejenak, aku menerima kabar lain dari seorang teman yang putranya juga mengidap autis. Jangan terkejut dengan biaya pengobatan dan biaya dokter ini karena jumlahnya nanti akan mahal, sangat mahal. Aku bertanya nominalnya berapa, namun ia tak menyebutkan pasti. Kurasa ia tak menjelaskannya secara gamblang agar aku tak patah semangat namun di sisi lain ia juga mengingatkanku agar bersiap bekal cukup.
*
Masih ada waktu enam bulan lagi untuk membawa Alya ke dokter tersebut. Maka masih ada waktu enam bulan lagi untuk menabung untuk bisa membiayai pengobatan ini. Aku duduk diam di ruang tamu sambil berpikir bagaimana caranya bisa memperoleh rejeki halal untuk pengobatan Alya. Harus bisa dan pasti bisa.
Pandangan mataku terarah pada celengan Minnie Mouse yang kubeli beberapa bulan lalu. Tiba-tiba aku berpikir untuk mulai menabung namun kali ini menabung bukan lagi di bank melainkan dengan cara lama yakni menabung lewat celengan. Semasa kecil menabung lewat celengan terbukti hasil yang didapat jauh lebih banyak daripada di bank karena tak pernah ada godaan diambil lewat ATM. Aku ambil celengan tanggung itu dan aku goncangkan isinya. Masih ringan dan hanya terdengar bunyi uang logam receh ya nyaring. Aku tahu sekarang.., celengan inilah penolongku ...
Aku tahu Tuhan Maha Baik, bahkan teramat baik. Maka Tuhan membagi pintu rejekiku dari berbagai penjuru. Beberapa teman meminta bantuan untuk menjadi moderator atau pembawa acara di event mereka. Sebagaian acara ini berlangsung justru ketika aku selesai kerja atau pada hari libur sehingga sama sekali tak mengganggu jam kerjaku. Bayarannya tak besar karena aku sudah menanamkan niat dalam diriku untuk membantu dan tak lagi hitung-hitungan materi terutama untuk membagi ilmu. Namun dari sinilah doaku untuk Alya terkabul. Tawaran demi tawaran berdatangan.
Dan siang aku memacu kecepatan mobilku untuk segera pulang menuju rumah, aku ingin segera bertemu Alya si malaikat kecil itu. Sebelumnya pagi itu aku menjadi moderator acara mahasiswa di Depok, jaraknya untungnya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Sesampainya di depan rumah, Alya seperti biasa tersenyum dan tertawa memamerkan gigi mungilnya yang rapi. Ia menarik tanganku masuk ke dalam, aku mengikutinya dengan luapan rasa senang dan juga tak sabar ingin menunjukkan sesuatu padanya.
“Al, sini mama bawa oleh-oleh..”
Aku masuk dan duduk ke dalam kamar, Alya lalu mengikutiku dan duduk di kakiku. Celengan Minnie Mouse berada tak jauh dari kami lalu aku raih dan aku taruh di hadapan Alya. Kukeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tas, amplop honorku pagi ini menjadi moderator.
“Al, ini tabung ya nak..”.
Amplop itu kusobek tepinya, kukeluarkan isinya berupa lembaran uang lima puluh ribuan, kulipat rapi dan kuserahkan pada Alya. Alya girang dan tertawa tawa, badannya dihentakkan beberapa kali di pangkuanku. Ia menerima uang lipatan itu dan ia masukkan sendiri ke celengan dengan dorongan tangan mungilnya. Satu..,dua.., tiga.., empat... hingga uang lima puluh ribu itu tak lagi bersisa. Putriku tertawa lebar, dan girang entahlah apakah ia tahu tentang apa yang ia lakukan barusan. Ia bawa celengan Minnie Mouse itu mondar mandir di dalam rumah.
Itulah tabungan pertamaku untuk pengobatan Alya, satu dari sekian banyak upaya agar Alya bisa menjauhi gejala autisnya dan tumbuh seperti anak normal lainnya. Celengan Minnie Mouse itu bagiku dan Alya adalah bukan sekedar celengan uang melainkan juga celengan harapan. Satu pot diantara banyak pot lainnya kami menanamkan benih mimpi-mimpi baik agar semuanya terkabul. Kami berdua memupuk harapan agar bisa segera mengapai mimpi kami bisa berkomunikasi selayaknya ibu dan anak lain yang normal. Alya agar esok kelak juga bisa belajar, bersekolah serta berprestasi seperti anak normal lainnya. Jalan memang masih panjang dan kami ingin menapakinya dengan pelahan dalam bahagia dan optimis.
Tuhan Maha Baik bukan?
[[end]]
Seseorang dari Masa Lalu
kepada seseorang dari masa lalu,
apa kabarmu hari ini?
lama kita tak bersua,
pagi itu kau kirim kabar untuk bertemu
bukan perkara mudah melupakanmu
butuh waktu lama untuk mengeringkan luka
pada kenangan lama aku ingin lupa
lalu aku ingin tegar seakan tak apa-apa
hidupku sudah baik-baik saja tanpamu
aku telah menatanya nyaris sempurna
lalu mengapa aku harus menoleh ke belakang?
pada seseorang dari masa lalu penoreh lara
maka maafkan aku siang itu..,
aku tak bisa menemuimu
kirimlah kabar seperlunya
jaga dirimu baik-baik
jaga dirinya baik-baik
kepadanya kau titipkan hidup, bukan padaku
kurasa kau pun tahu apa alasanku begini
karena manusia tak bisa menguasai rasa
lalu pada aksara aku mengaku
wahai seseorang di masa lalu..
apa kabarmu hari ini?
kulipat cerita kita hari ini..
[[end]]
Sabtu, 03 Desember 2011
"Khusus Undangan"
Akhirnya kabar pernikahan anak lelaki bungsu presiden muncul di media. Setelah beberapa bulan yang lalu prosesi lamaran berlangsung, maka sesuai jadwal tiga bulan selanjutnya beranjak ke prosesi akad nikah dan resepsi perkawinan. Entah seperti apa kerepotan dan panjangnya persiapan pernikahan agung ini. Kalau masalah biaya biarlah ada bagian lain yang menghitung dan mereka-reka berapa miliar habisnya. Yang jelas tiga minggu lagi pernikahanan Abas dan Aulia akan jadi pusat perhatian seluruh negeri.
Bu Mariani duduk di kursi teras depan rumahnya yang asri di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Suasananya masih sejuk, semilir angin mengetuk udara pagi itu dan Bu Mariani dengan cerdas menangkalnya dengan secangkir teh manis di meja. Sebuah tabloid wanita yang baru dilempar loper koran dipungutnya dari halaman kemudian dibacanya seksama. Headlinenya edisi kali ini adalah tentang persiapan pernikahan putra presiden, Abas dan calon mempelai perempuan, Aulia. Dibukanya halaman pertama, kedua dan ketiga lalu seterusnya. Sesekali ia betulkan posisi kacamatanya agar bisa lebih jelas membaca. Agaknya ada informasi penting yang telah ia dapatkan dari tabloid. Selanjutnya ia melangkah ke ruang tengah, mengambil spidol di laci meja dan menghampiri kalender yang tergantung di dinding dapur. Tanggal 26 November ia lingkari bulat sempurna, tanggal resepsi pernikahan Abas dan Aulia, putra presiden.
Usianya memang sudah sepuh, 65 tahun namun fisik Bu Mariani masih sehat dan ingatannya kuat. Sudah lama ia menjanda, suaminya Pak Darmono seorang pejabat, meninggal enam tahun lalu karena menderita stroke dan diabetes. Pak Darmono suaminya dahulu adalah menteri keuangan dalam kabinet pemerintahan beberapa periode silam. Saat suaminya menjabat inilah mereka “menabung” tanah luas dan beberapa rumah megah, salah satunya ya rumah asri nan luas di kawasan Sentul yang kini ia tempati. Ia hanya tinggal bertiga dengan Prapti, pembantunya dan Lukman, si sopir. Bu Mar memilih untuk tinggal sendiri meski seorang putranya yang ada di Jakarta sudah berulang kali membujuknya untuk ikut bersama keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bu Mariani hidup dari transferan uang pensiunan almarhum suaminya dan usaha kayu peninggalan keluarga yang berada di Jepara, Jawa Tengah. Sesekali untuk membunuh bosan, bu Mariani masih aktif bergabung di arisan istri-istri mantan menteri yang sebulan sekali rutin diselenggarakan di Jakarta atau terkadang luar kota yang biasanya dilanjutkan dengan acara tour. Isu-isu di balik layar tentang rumah tangga para pejabat pun tak pernah absen dari radar pantauannya. Tak jarang kadang jika istana mengadakan acara pengajian atau acara yang melibatkan istri pejabat maupun mantan pejabat, bu Mariani diundang. Intinya ia masih (merasa) eksis di kancah pergaulan ibu-ibu pejabat dan mantan pejabat negeri ini.
*
Pintu kiri lemari pakaian di kamar bu Mar sepintas memang mirip pintu lemari keramat. Pasalnya pintu ini jarang dibuka dan hanya dibuka di saat-saat tertentu ketika bu Mar akan menghadiri acara penting. Deretan baju muslim dan kebaya buatan desainer ternama tergantung rapi di lemari ini. Harganya jelas tidak murah, ada yang hingga belasan juta. Untuk selera bu Mar memang tak diragukan lagi, ia tipe istri pejabat yang tahu betul bagaimana berpenampilan berkelas atas. Baginya penampilan adalah cara penting untuk mengangkat martabat dan menjaga nama baik dirinya sepeninggal suaminya yang telah tiada. Ia tak mau dicap sebagai istri pejabat yang merana dan nelangsa setelah sang suami tak lagi menjabat dan tiada. Toh memang begitu kenyataannya, bu Mar tak pernah kekurangan uang dan namanya disegani di kalangan ibu-ibu pejabat.
Sebuah kebaya brokat coklat keemasan dengan payet bu Mar turunkan pelahan dari gantungan. Payetnya memang hanya melingkar-lingkar di motif-motif tertentu namun itu justru menjadi peanggun kebaya ini. Anda tahukan kadang hiasan payet terlalu ramai justru bikin ‘ndeso’. Siapapun tahu bahwa kebaya ini berkelas dan mewah. Dibaliknya kebaya itu depan belakang, diteltitinya dengan seksama tiap detail kebaya tersebut. Seulas senyum kebanggaan terpancar dari wajahnya menatapnya. Ini kebaya termahal miliknya dan sangat ia sayang dan dieman-eman.
“Prapti....”
“Nggih bu...”, suara Prapti dari ruang tengah terdengar menghampiri bu Mar yang ada di kamar.
“Tolong kamu dry cleankan kebaya ini. Bilang orangnya hati-hati.. iki kebaya larang (mahal)”
”Diagem (dipakai) kapan bu?”
”Kalau bisa minggu ini jadi, arep tak gawe minggu ngarep (saya mau pakai minggu depan)”
Prapti tak banyak bicara, ia ambil dengan hormat dan hati-hati kebaya tersebut dari tangan bu Mar. Ini titah penting bahkan sangat penting, artinya harus segera dilaksanaken maksudnya dilaksanakan..
*
Dua minggu lagi resepsi akan digelar dan bu Mar makin sering mengintip pagar depan rumah. Tiap kali ada orang yang berada di balik pagar, bu Mar menjadi lebih seksama memperhatikan. Tak jarang ia sendiri yang menghampiri untuk menanyai maksud keperluannya padahal sebenarnya tugas itu biasa dilakukan Lukman, sopirnya. Nampaknya memang ada yang ditunggu dan yang dinanti adalah kurir pengantar undangan pernikahan Abas, putra bungsu presiden. Prapti dan Lukman agak terheran-heran dengan tingkah laku sang nyonya besar namun mereka hanya bisa menebak-nebak sendiri tentang kegalauan bu Mar.
”Prapti..”
”Inggih bu?”
”Kebayaku wes (sudah) diambil dari laundry?”
”Sampun (sudah), sudah saya gantung lagi di lemari
" Ya wes nek ngono. Prap, kamu sama Lukman sering ngawasi kalau ada orang nganter undangan ya ? Nek ada undangan resepsi nikah segera kabari.. "
"Baik bu.."
Lalu waktu berjalan merambat namun mengguratkan keresahan pada dada bu Mar karena sudah sepuluh hari ia menanti tibanya undangan perhelatan agung tersebut. Dalam hati ia mengkritik buruknya kerja kurir pengantar undangan yang dipilih istana mengapa undangan untuknya belum juga sampai. Lalu kemudian spekulasinya berkembang jangan-jangan pihak rumah tangga istana salah ketik alamat undangan untuknya atau mungkin tidak update alamat rumahnya di Sentul dan dipikir bu Mar masih menempati rumah di kompleks menteri di Widya Candra, Jakarta. Tapi rasanya tidak mungkin karena selama ini undangan-undangan acara lain bisa sampai sempurna ke rumahnya. Lalu apakah pihak istana lupa mengundang bu Mar ? Rasanya juga tidak biasa dan baginya kemungkinan terakhir ini kecil sekali. Bagaimana mungkin istana tak mengundang orang penting seperti dirinya, ingat jasa almarhum suaminya yang dulu jadi menteri keuangan dua periode dalam kabinet !!. Rasanya mustahil.
Diangkatnya gagang telefon dengan perasaan berat. Tapi rasanya keresahan di dalam hati bu Mar harus segera mendapat jawaban. Tak terasa perhelatan resepsi pernikahan agung tinggal tujuh hari lagi dan bu Mar harus memastikan apakah ia memang diundang atau tidak. Kalau iya mana undangannya, kalau tidak mengapa ia sampai tak diundang. Dipencetnya tombol nomor telefon yang sudah ia sangat hafal, sekian detik kemudian di ujung sana suara dering telefon rumah bu Wahyuni berdering. Bu Wahyuni, istri mantan menteri kehutanan yang menjabat pada periode yang sama dengan pak Darmono.
"Hallo, bisa bicara dengan jeng Wahyuni ?"
"Iya, saya sendiri. Ini siapa ? Mbak Maryani ?"
"Lho masih inget suaraku tho Dik?"
"Iya, wes suwi mbak Mar iki nggak telefon. Ono opo mbak?"
"Dik Wahyuni apa sudah terima undangan resepsinya Abas?"
"Sudah mbak, seminggu yang lalu. Mbak Mar yo diundang tho?"
"Ohh..engh..Iya dik aku yo diundang", Bu Mar agak gugup mengatur jawabannya.
"Terus kenapa mbak? Mbak Mar mau rawuh (datang) sama siapa?"
"Eee anu paling ya sama Panji, anakku. Ya wes Dik nek ngono, mengko tak sambung maneh ya (ya sudah kalau begitu nanti saya sambung lagi)"
Telefon berakhir dengan tanda tanya di kepala bu Wahyuni di ujung sana sementara bu Mar merasakan kebingungan tak berujung. Dipandanginya foto besar dalam figura ukiran keemasan yang tergantung di dinding di hadapannya. Foto bu Mar bersama almarhum Pak Darmono yang tersenyum gagah dan berwibawa sementara dirinya berada di samping kiri tersenyum penuh keanggunan. Diingatnya masa suaminya ketika masih menjabat sebagai menteri keuangan adalah masa keluarganya berjaya di posisi atas. Betapa banyak kemudahan dan juga ‘rejeki’ yang menghampiri keluarganya karena baik suaminya maupun bu Mar sangat dekat dengan keluarga presiden. Lalu masa pemerintahan berganti hingga akhirnya pak Darmono bukan lagi siapa-siapa dan tak lagi duduk di kursi menteri, bu Mar meneguhkan prinsip pada keluarganya bahwa harkat dan martabat keluarga harus dijaga sampai mati. Jangan sampai keluarganya jadi tertawaan keluarga pejabat lain ataupun rakyat kebanyakan karena tak lagi menjabat ataupun makmur. Lalu saat ini mewujudkan visi misi itu adalah dengan cara memperoleh undangan resepsi Abas Aulia. undangan itu meski hanya selembar berjuta maknanya dan salah satu makna pentingnya adalah keluarganya masih dianggap sebagai keluarga terhormat dan penting di negeri ini. Kalau sampai tidak, ini tamparan keras bahkan teramat menyakitkan.
Pergulatan batin demikian hebat terjadi di dada bu Mar. Ia ganti menelfon anak sulungnya Panji.
"Nji, Ibu nggak dapat undangannya Abas"
"Mungkin belum diantar Bu", jawab Panji enteng.
"Nggak Nji, ibu nggak dapat. Ibu tadi wes telefon bu Wahyuni, bu Wahyuni bilang sudah dapat seminggu lalu. Iki mesti ibu nggak diundang. Kalau diundang harusnya undangannya wes nyampe"
"Ya sudah Bu, memangnya kenapa? Malah enak tho Ibu nggak perlu nyumbang-nyumbang, desek-desekan. Itu nanti yang datang rame Bu", jawab Panji sekenanya. Ia mewarisi sikap bapaknya yang cuek dan agak ceplas-ceplos, sifat yang justru kebalikan dari bu Mar yang perfeksionis.
"Eh Le kok iso lho kamu ngomong gitu. Penting itu Le undangan itu. Ini masalah martabat,Nji. Iso isin sak keluarga kalau kita nggak diundang .......", bu Mar berbicara panjang lebar tentang harkat martabat dengan rincian detail sedetailnya nan njlimet. Panji hanya mendengar sekenanya namun Ia baru sadar bahwa ia salah melemparkan pernyataan sensitif tentang undangan tadi pada ibunya. Ah jelas saja, Panji anak sulung yang amat mengenal sifat ibunya dan ia tahu betul untuk persoalan yang satu ini sang ibu tak bisa diganggu gugat.
"Ya sudah Ibu kerso(mau) nya apa?"
"Kamu coba carikan undangan Abas, harus iso dapat. Ibu iso isin Le kalau sampai nggak datang ke acara itu"
"Buat apa Bu ? Buat ibu ? Lha kalau memang tidak diundang ya gimana ?"
"Kudu iso pokoke,Nji. Buat Ibu undangannya biar bisa datang ke resepsi..", bu Mar bertutur penuh penekanan.
"Ha?", Panji berteriak kaget, badannya lemas namun tak kuasa menolak. Jika suaranya sudah begitu artinya ini titah penting dari Ibunda dan seperti biasa bisa panjang urusannya jika menolak.
*
Tinggal tiga lagi. Pemantauan pada pagar rumah Sentul tak kendur. Siapa tahu kurir yang terlambat mengantar undangan yang dinanti tiba. Jika tidak, bu Mar masih punya harapan terakhir yakni Panji, anak sulungnya. Selama ini Panji tak pernah mengecewakan jika diberi kepercayaan mengemban tugas dan bu Mar berdoa siang malam agar anaknya diberi 'petunjuk' untuk mendapatkan undangan resepsi pernikahan sang anak presiden yang tinggal sehari lagi. Maka benar adanya ungkapan bahwa manusia tidak boleh patah semangat apapun yang terjadi karena Tuhan bisa mengatur banyak jalan untuk mengabulkan doa umatNya. Rabu pagi telefon rumah bu Mar berdering.
"Bu, undangannya sudah dapat"
"Lho kok iso, Nji ?" suara bu Mar senang bercampur kaget.
"Sudah Bu pokoknya sudah dapat" Panji menjawab pendek dengan menyelipkan nada kesal bin datar.
Percakapan telefon tak berlangsung lama dan perasaan bungah bu Mar tak terkira meledak-ledak di dadanya. Persiapan selanjutnya adalah memastikan penampilan terbaiknya di acara resepsi mantu presiden yang tinggal sebentar lagi.
Sementara Panji di Jakarta menggeleng tak habis pikir dengan sifat ibunya yang tak kunjung berubah. Sifat ibu tercintanya tak kunjung bisa menerima kenyataan bahwa masa keemasan keluarganya telah berlalu dan memang saat ini mereka adalah keluarga biasa yang wajar jika luput dari perhatian keluarga presiden. Memangnya siapa ?
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Telefon sekretaris pak Dirut selasa malam kemarin sungguh tak terduga. Panji diminta mewakili pak Dirut yang tengah sedang berada di Eropa untuk hadir di resepsi Abas Aulia. Bukan pertama kali memang Panji yang menjabat sebagai Direktur sebuah BUMN yang bergerak di bidang perkebunan diminta mewakili Direktur utama pada beberapa kesempatan ketika pak Dirut berhalangan hadir. Namun acara mewakili yang biasanya jadi beban kali ini justru adalah anugerah tak terkira bagi Panji. Sudah berhari-hari ia putar otak kanan kiri untuk mendapatkan undangan ini, eh ndilalah (kebetulan) kok ya bisa dapat. Rabu pagi sopir dirut telah mengantarkan undangan itu ke rumah Panji dan masih kondisinya masih terbungkus rapi di plastiknya. Saking senangnya Panji menyuruh Ika, pembantu yang baru bekerja seminggu di rumahnya untuk menjamu sopir pak dirut sebaik mungkin.
*
Hari besar telah tiba. Sabtu sore nanti adalah momen penting tak hanya untuk Abas Aulia namun juga untuk bu Mar. Pagi-pagi ia telah berada dalam perjalanan di tol Jagorawi arah Jakarta. Sebelumnya Prapti pembantunya telah memasukkan beragam perlengkapan ke dalam bagasi mobil kecuali untuk kebaya keemasa mahal belasan juta yang digantungkan di baris kedua mobil.
"Prap, kabeh wes dilebokno mobil ? (semua sudah kamu masukkan ke dalam mobil?"
"Sampun Bu. Sepatu, make up, konde ada di bagasi. Kalau kebaya sudah digantung di dalam mobil"
"Wes yo berarti kabeh (jadi sudah semua ya) ?"
"Ibu menopo ngersake (apa ingin/mau) bawa baju kebaya satu lagi buat cadangan ?"
"Gak Prap. Kebaya iki wes sing paling apik".
Lalu lintas sangat bersahabat pagi itu. Tak butuh waktu lama menjangkau rumah Panji yang berada di Tebet, Jakarta. Panji sudah menanti di teras rumah kedatangan ibunya yang sedang senang. Panji sebentar mengenalkan ibunya pada Ika, pembantu barunya yang masih berusia tujuh belas tahun. Namun perkenalan itu tak lama setelah istri Panji, Ratih mengajak ibu mertuanya masuk ke dalam.
"Nduk, turunkan barang-barang Ibu, yo !. Itu koper ada di bagasi terus kebayanya ada di dalam mobil. Kamu siapkan buat nanti malam karena Ibu mau pakai", Bu Mar lalu melangkah ke dalam. Dua cucunya berebut cium tangan sang nenek. Jika nenek sedang gembira biasanya mereka akan diberi uang saku dan memang Bu Mar sedang gembira.
*
Acara akan dimulai pukul tujuh malam, estimasi perjalanan Tebet-Senayan, tempat resepsi dilangsungkan sekitar satu jam. Jaraknya sebenarnya dekat namun Panji sudah memperkirakan bahwa pasti nanti akan sulit mencari parkir mobil. Bu Mar dan Panji berarti akan berangkat pukul enam sore, setelah magrib. Bu Mar bersiap sejak pukul empat sore. Lidya, seorang penata rambut langganan dipanggilnya ke rumah untuk menata sanggulnya agar tampil memesona. Kalau masalah riasan tangan bu Mar tak kalah dingin dengan perias profesional, ia memilih merias wajahnya yang masih cantik di usia senja itu sendiri. Lidya berbagi cerita tentang kehidupan istri pejabat lain yang jadi langganannya. Tapi berbagi pembicaraan. Sejam berlalu waktu menunjukkan pukul lima sore, rambut bu Mar sudah rapi. Ia menyelipkan tip lumayan untuk Lidya yang membuat tampilannya cantik.
Panji mengisi perutnya sedikit dengan gorengan di meja makan. Tak lama lagi ia akan mengenakan baju batik lengan panjang yang warnanya senada dengan kebaya ibunya. Bu mar memakai jarit sampai ‘ninthing’ sebagai bawahan. Lama ia berkaca di depan cermin besar di kamar tamu, mengagumi motif jarit dan sanggulnya yang elok. Kurang kebaya cokelat keemasan yang akan membuat penampilannya sempurna. Ia akan sangat cantik malam ini, sama cantiknya kala suaminya dulu menikahinya. Bu Mar mencari kebayanya di kamar namun ia tak menemukan tergantung di balik pintu, dalam lemari atau pun di kasur. Di mana kebaya brokat cokelat emas kebanggannya itu ?
Pintu kamar diketuk, muncul Ika di balik pintu.
"Bu, ini kebayanya ….", Ika berbicara lirih, gemetar dan tertahan..
"Iyo, endi kebayaku, Nduk"
"Anu Bu kebayanya.. anu.. kebayanya gosong pas saya setrika".
"Hee… kok iso…"
Ika menuturkan bahwa ia tadi diminta menyiapkan kebaya untuk dipakai malam ini. Ika yang ingin mengambil hati bu Mar berinisiatif menyetrika kebaya tersebut. Rupanya kebaya brokat cokelat keemasan yang sedari dulu aturannya tak boleh disetrika, benar-benar tak tahan dengan suhu panas. Hanya beberapa detik kebaya itu hangus membentuk motif setrika pas tepat di bagian dada.
Bu Mar hanya sayup-sayup menerima penjelasan itu, kepalanya berat dan mendadak pandangannnya silau lalu berujung gelap, lemas lunglai lalu pingsan. Bu Mariani, istri almarhum Pak Darmono mantan menteri keuangan batal hadir di resepsi pernikahan putra presiden, Abas dan Aulia.
[[end]]
Bu Mariani duduk di kursi teras depan rumahnya yang asri di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Suasananya masih sejuk, semilir angin mengetuk udara pagi itu dan Bu Mariani dengan cerdas menangkalnya dengan secangkir teh manis di meja. Sebuah tabloid wanita yang baru dilempar loper koran dipungutnya dari halaman kemudian dibacanya seksama. Headlinenya edisi kali ini adalah tentang persiapan pernikahan putra presiden, Abas dan calon mempelai perempuan, Aulia. Dibukanya halaman pertama, kedua dan ketiga lalu seterusnya. Sesekali ia betulkan posisi kacamatanya agar bisa lebih jelas membaca. Agaknya ada informasi penting yang telah ia dapatkan dari tabloid. Selanjutnya ia melangkah ke ruang tengah, mengambil spidol di laci meja dan menghampiri kalender yang tergantung di dinding dapur. Tanggal 26 November ia lingkari bulat sempurna, tanggal resepsi pernikahan Abas dan Aulia, putra presiden.
Usianya memang sudah sepuh, 65 tahun namun fisik Bu Mariani masih sehat dan ingatannya kuat. Sudah lama ia menjanda, suaminya Pak Darmono seorang pejabat, meninggal enam tahun lalu karena menderita stroke dan diabetes. Pak Darmono suaminya dahulu adalah menteri keuangan dalam kabinet pemerintahan beberapa periode silam. Saat suaminya menjabat inilah mereka “menabung” tanah luas dan beberapa rumah megah, salah satunya ya rumah asri nan luas di kawasan Sentul yang kini ia tempati. Ia hanya tinggal bertiga dengan Prapti, pembantunya dan Lukman, si sopir. Bu Mar memilih untuk tinggal sendiri meski seorang putranya yang ada di Jakarta sudah berulang kali membujuknya untuk ikut bersama keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bu Mariani hidup dari transferan uang pensiunan almarhum suaminya dan usaha kayu peninggalan keluarga yang berada di Jepara, Jawa Tengah. Sesekali untuk membunuh bosan, bu Mariani masih aktif bergabung di arisan istri-istri mantan menteri yang sebulan sekali rutin diselenggarakan di Jakarta atau terkadang luar kota yang biasanya dilanjutkan dengan acara tour. Isu-isu di balik layar tentang rumah tangga para pejabat pun tak pernah absen dari radar pantauannya. Tak jarang kadang jika istana mengadakan acara pengajian atau acara yang melibatkan istri pejabat maupun mantan pejabat, bu Mariani diundang. Intinya ia masih (merasa) eksis di kancah pergaulan ibu-ibu pejabat dan mantan pejabat negeri ini.
*
Pintu kiri lemari pakaian di kamar bu Mar sepintas memang mirip pintu lemari keramat. Pasalnya pintu ini jarang dibuka dan hanya dibuka di saat-saat tertentu ketika bu Mar akan menghadiri acara penting. Deretan baju muslim dan kebaya buatan desainer ternama tergantung rapi di lemari ini. Harganya jelas tidak murah, ada yang hingga belasan juta. Untuk selera bu Mar memang tak diragukan lagi, ia tipe istri pejabat yang tahu betul bagaimana berpenampilan berkelas atas. Baginya penampilan adalah cara penting untuk mengangkat martabat dan menjaga nama baik dirinya sepeninggal suaminya yang telah tiada. Ia tak mau dicap sebagai istri pejabat yang merana dan nelangsa setelah sang suami tak lagi menjabat dan tiada. Toh memang begitu kenyataannya, bu Mar tak pernah kekurangan uang dan namanya disegani di kalangan ibu-ibu pejabat.
Sebuah kebaya brokat coklat keemasan dengan payet bu Mar turunkan pelahan dari gantungan. Payetnya memang hanya melingkar-lingkar di motif-motif tertentu namun itu justru menjadi peanggun kebaya ini. Anda tahukan kadang hiasan payet terlalu ramai justru bikin ‘ndeso’. Siapapun tahu bahwa kebaya ini berkelas dan mewah. Dibaliknya kebaya itu depan belakang, diteltitinya dengan seksama tiap detail kebaya tersebut. Seulas senyum kebanggaan terpancar dari wajahnya menatapnya. Ini kebaya termahal miliknya dan sangat ia sayang dan dieman-eman.
“Prapti....”
“Nggih bu...”, suara Prapti dari ruang tengah terdengar menghampiri bu Mar yang ada di kamar.
“Tolong kamu dry cleankan kebaya ini. Bilang orangnya hati-hati.. iki kebaya larang (mahal)”
”Diagem (dipakai) kapan bu?”
”Kalau bisa minggu ini jadi, arep tak gawe minggu ngarep (saya mau pakai minggu depan)”
Prapti tak banyak bicara, ia ambil dengan hormat dan hati-hati kebaya tersebut dari tangan bu Mar. Ini titah penting bahkan sangat penting, artinya harus segera dilaksanaken maksudnya dilaksanakan..
*
Dua minggu lagi resepsi akan digelar dan bu Mar makin sering mengintip pagar depan rumah. Tiap kali ada orang yang berada di balik pagar, bu Mar menjadi lebih seksama memperhatikan. Tak jarang ia sendiri yang menghampiri untuk menanyai maksud keperluannya padahal sebenarnya tugas itu biasa dilakukan Lukman, sopirnya. Nampaknya memang ada yang ditunggu dan yang dinanti adalah kurir pengantar undangan pernikahan Abas, putra bungsu presiden. Prapti dan Lukman agak terheran-heran dengan tingkah laku sang nyonya besar namun mereka hanya bisa menebak-nebak sendiri tentang kegalauan bu Mar.
”Prapti..”
”Inggih bu?”
”Kebayaku wes (sudah) diambil dari laundry?”
”Sampun (sudah), sudah saya gantung lagi di lemari
" Ya wes nek ngono. Prap, kamu sama Lukman sering ngawasi kalau ada orang nganter undangan ya ? Nek ada undangan resepsi nikah segera kabari.. "
"Baik bu.."
Lalu waktu berjalan merambat namun mengguratkan keresahan pada dada bu Mar karena sudah sepuluh hari ia menanti tibanya undangan perhelatan agung tersebut. Dalam hati ia mengkritik buruknya kerja kurir pengantar undangan yang dipilih istana mengapa undangan untuknya belum juga sampai. Lalu kemudian spekulasinya berkembang jangan-jangan pihak rumah tangga istana salah ketik alamat undangan untuknya atau mungkin tidak update alamat rumahnya di Sentul dan dipikir bu Mar masih menempati rumah di kompleks menteri di Widya Candra, Jakarta. Tapi rasanya tidak mungkin karena selama ini undangan-undangan acara lain bisa sampai sempurna ke rumahnya. Lalu apakah pihak istana lupa mengundang bu Mar ? Rasanya juga tidak biasa dan baginya kemungkinan terakhir ini kecil sekali. Bagaimana mungkin istana tak mengundang orang penting seperti dirinya, ingat jasa almarhum suaminya yang dulu jadi menteri keuangan dua periode dalam kabinet !!. Rasanya mustahil.
Diangkatnya gagang telefon dengan perasaan berat. Tapi rasanya keresahan di dalam hati bu Mar harus segera mendapat jawaban. Tak terasa perhelatan resepsi pernikahan agung tinggal tujuh hari lagi dan bu Mar harus memastikan apakah ia memang diundang atau tidak. Kalau iya mana undangannya, kalau tidak mengapa ia sampai tak diundang. Dipencetnya tombol nomor telefon yang sudah ia sangat hafal, sekian detik kemudian di ujung sana suara dering telefon rumah bu Wahyuni berdering. Bu Wahyuni, istri mantan menteri kehutanan yang menjabat pada periode yang sama dengan pak Darmono.
"Hallo, bisa bicara dengan jeng Wahyuni ?"
"Iya, saya sendiri. Ini siapa ? Mbak Maryani ?"
"Lho masih inget suaraku tho Dik?"
"Iya, wes suwi mbak Mar iki nggak telefon. Ono opo mbak?"
"Dik Wahyuni apa sudah terima undangan resepsinya Abas?"
"Sudah mbak, seminggu yang lalu. Mbak Mar yo diundang tho?"
"Ohh..engh..Iya dik aku yo diundang", Bu Mar agak gugup mengatur jawabannya.
"Terus kenapa mbak? Mbak Mar mau rawuh (datang) sama siapa?"
"Eee anu paling ya sama Panji, anakku. Ya wes Dik nek ngono, mengko tak sambung maneh ya (ya sudah kalau begitu nanti saya sambung lagi)"
Telefon berakhir dengan tanda tanya di kepala bu Wahyuni di ujung sana sementara bu Mar merasakan kebingungan tak berujung. Dipandanginya foto besar dalam figura ukiran keemasan yang tergantung di dinding di hadapannya. Foto bu Mar bersama almarhum Pak Darmono yang tersenyum gagah dan berwibawa sementara dirinya berada di samping kiri tersenyum penuh keanggunan. Diingatnya masa suaminya ketika masih menjabat sebagai menteri keuangan adalah masa keluarganya berjaya di posisi atas. Betapa banyak kemudahan dan juga ‘rejeki’ yang menghampiri keluarganya karena baik suaminya maupun bu Mar sangat dekat dengan keluarga presiden. Lalu masa pemerintahan berganti hingga akhirnya pak Darmono bukan lagi siapa-siapa dan tak lagi duduk di kursi menteri, bu Mar meneguhkan prinsip pada keluarganya bahwa harkat dan martabat keluarga harus dijaga sampai mati. Jangan sampai keluarganya jadi tertawaan keluarga pejabat lain ataupun rakyat kebanyakan karena tak lagi menjabat ataupun makmur. Lalu saat ini mewujudkan visi misi itu adalah dengan cara memperoleh undangan resepsi Abas Aulia. undangan itu meski hanya selembar berjuta maknanya dan salah satu makna pentingnya adalah keluarganya masih dianggap sebagai keluarga terhormat dan penting di negeri ini. Kalau sampai tidak, ini tamparan keras bahkan teramat menyakitkan.
Pergulatan batin demikian hebat terjadi di dada bu Mar. Ia ganti menelfon anak sulungnya Panji.
"Nji, Ibu nggak dapat undangannya Abas"
"Mungkin belum diantar Bu", jawab Panji enteng.
"Nggak Nji, ibu nggak dapat. Ibu tadi wes telefon bu Wahyuni, bu Wahyuni bilang sudah dapat seminggu lalu. Iki mesti ibu nggak diundang. Kalau diundang harusnya undangannya wes nyampe"
"Ya sudah Bu, memangnya kenapa? Malah enak tho Ibu nggak perlu nyumbang-nyumbang, desek-desekan. Itu nanti yang datang rame Bu", jawab Panji sekenanya. Ia mewarisi sikap bapaknya yang cuek dan agak ceplas-ceplos, sifat yang justru kebalikan dari bu Mar yang perfeksionis.
"Eh Le kok iso lho kamu ngomong gitu. Penting itu Le undangan itu. Ini masalah martabat,Nji. Iso isin sak keluarga kalau kita nggak diundang .......", bu Mar berbicara panjang lebar tentang harkat martabat dengan rincian detail sedetailnya nan njlimet. Panji hanya mendengar sekenanya namun Ia baru sadar bahwa ia salah melemparkan pernyataan sensitif tentang undangan tadi pada ibunya. Ah jelas saja, Panji anak sulung yang amat mengenal sifat ibunya dan ia tahu betul untuk persoalan yang satu ini sang ibu tak bisa diganggu gugat.
"Ya sudah Ibu kerso(mau) nya apa?"
"Kamu coba carikan undangan Abas, harus iso dapat. Ibu iso isin Le kalau sampai nggak datang ke acara itu"
"Buat apa Bu ? Buat ibu ? Lha kalau memang tidak diundang ya gimana ?"
"Kudu iso pokoke,Nji. Buat Ibu undangannya biar bisa datang ke resepsi..", bu Mar bertutur penuh penekanan.
"Ha?", Panji berteriak kaget, badannya lemas namun tak kuasa menolak. Jika suaranya sudah begitu artinya ini titah penting dari Ibunda dan seperti biasa bisa panjang urusannya jika menolak.
*
Tinggal tiga lagi. Pemantauan pada pagar rumah Sentul tak kendur. Siapa tahu kurir yang terlambat mengantar undangan yang dinanti tiba. Jika tidak, bu Mar masih punya harapan terakhir yakni Panji, anak sulungnya. Selama ini Panji tak pernah mengecewakan jika diberi kepercayaan mengemban tugas dan bu Mar berdoa siang malam agar anaknya diberi 'petunjuk' untuk mendapatkan undangan resepsi pernikahan sang anak presiden yang tinggal sehari lagi. Maka benar adanya ungkapan bahwa manusia tidak boleh patah semangat apapun yang terjadi karena Tuhan bisa mengatur banyak jalan untuk mengabulkan doa umatNya. Rabu pagi telefon rumah bu Mar berdering.
"Bu, undangannya sudah dapat"
"Lho kok iso, Nji ?" suara bu Mar senang bercampur kaget.
"Sudah Bu pokoknya sudah dapat" Panji menjawab pendek dengan menyelipkan nada kesal bin datar.
Percakapan telefon tak berlangsung lama dan perasaan bungah bu Mar tak terkira meledak-ledak di dadanya. Persiapan selanjutnya adalah memastikan penampilan terbaiknya di acara resepsi mantu presiden yang tinggal sebentar lagi.
Sementara Panji di Jakarta menggeleng tak habis pikir dengan sifat ibunya yang tak kunjung berubah. Sifat ibu tercintanya tak kunjung bisa menerima kenyataan bahwa masa keemasan keluarganya telah berlalu dan memang saat ini mereka adalah keluarga biasa yang wajar jika luput dari perhatian keluarga presiden. Memangnya siapa ?
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Telefon sekretaris pak Dirut selasa malam kemarin sungguh tak terduga. Panji diminta mewakili pak Dirut yang tengah sedang berada di Eropa untuk hadir di resepsi Abas Aulia. Bukan pertama kali memang Panji yang menjabat sebagai Direktur sebuah BUMN yang bergerak di bidang perkebunan diminta mewakili Direktur utama pada beberapa kesempatan ketika pak Dirut berhalangan hadir. Namun acara mewakili yang biasanya jadi beban kali ini justru adalah anugerah tak terkira bagi Panji. Sudah berhari-hari ia putar otak kanan kiri untuk mendapatkan undangan ini, eh ndilalah (kebetulan) kok ya bisa dapat. Rabu pagi sopir dirut telah mengantarkan undangan itu ke rumah Panji dan masih kondisinya masih terbungkus rapi di plastiknya. Saking senangnya Panji menyuruh Ika, pembantu yang baru bekerja seminggu di rumahnya untuk menjamu sopir pak dirut sebaik mungkin.
*
Hari besar telah tiba. Sabtu sore nanti adalah momen penting tak hanya untuk Abas Aulia namun juga untuk bu Mar. Pagi-pagi ia telah berada dalam perjalanan di tol Jagorawi arah Jakarta. Sebelumnya Prapti pembantunya telah memasukkan beragam perlengkapan ke dalam bagasi mobil kecuali untuk kebaya keemasa mahal belasan juta yang digantungkan di baris kedua mobil.
"Prap, kabeh wes dilebokno mobil ? (semua sudah kamu masukkan ke dalam mobil?"
"Sampun Bu. Sepatu, make up, konde ada di bagasi. Kalau kebaya sudah digantung di dalam mobil"
"Wes yo berarti kabeh (jadi sudah semua ya) ?"
"Ibu menopo ngersake (apa ingin/mau) bawa baju kebaya satu lagi buat cadangan ?"
"Gak Prap. Kebaya iki wes sing paling apik".
Lalu lintas sangat bersahabat pagi itu. Tak butuh waktu lama menjangkau rumah Panji yang berada di Tebet, Jakarta. Panji sudah menanti di teras rumah kedatangan ibunya yang sedang senang. Panji sebentar mengenalkan ibunya pada Ika, pembantu barunya yang masih berusia tujuh belas tahun. Namun perkenalan itu tak lama setelah istri Panji, Ratih mengajak ibu mertuanya masuk ke dalam.
"Nduk, turunkan barang-barang Ibu, yo !. Itu koper ada di bagasi terus kebayanya ada di dalam mobil. Kamu siapkan buat nanti malam karena Ibu mau pakai", Bu Mar lalu melangkah ke dalam. Dua cucunya berebut cium tangan sang nenek. Jika nenek sedang gembira biasanya mereka akan diberi uang saku dan memang Bu Mar sedang gembira.
*
Acara akan dimulai pukul tujuh malam, estimasi perjalanan Tebet-Senayan, tempat resepsi dilangsungkan sekitar satu jam. Jaraknya sebenarnya dekat namun Panji sudah memperkirakan bahwa pasti nanti akan sulit mencari parkir mobil. Bu Mar dan Panji berarti akan berangkat pukul enam sore, setelah magrib. Bu Mar bersiap sejak pukul empat sore. Lidya, seorang penata rambut langganan dipanggilnya ke rumah untuk menata sanggulnya agar tampil memesona. Kalau masalah riasan tangan bu Mar tak kalah dingin dengan perias profesional, ia memilih merias wajahnya yang masih cantik di usia senja itu sendiri. Lidya berbagi cerita tentang kehidupan istri pejabat lain yang jadi langganannya. Tapi berbagi pembicaraan. Sejam berlalu waktu menunjukkan pukul lima sore, rambut bu Mar sudah rapi. Ia menyelipkan tip lumayan untuk Lidya yang membuat tampilannya cantik.
Panji mengisi perutnya sedikit dengan gorengan di meja makan. Tak lama lagi ia akan mengenakan baju batik lengan panjang yang warnanya senada dengan kebaya ibunya. Bu mar memakai jarit sampai ‘ninthing’ sebagai bawahan. Lama ia berkaca di depan cermin besar di kamar tamu, mengagumi motif jarit dan sanggulnya yang elok. Kurang kebaya cokelat keemasan yang akan membuat penampilannya sempurna. Ia akan sangat cantik malam ini, sama cantiknya kala suaminya dulu menikahinya. Bu Mar mencari kebayanya di kamar namun ia tak menemukan tergantung di balik pintu, dalam lemari atau pun di kasur. Di mana kebaya brokat cokelat emas kebanggannya itu ?
Pintu kamar diketuk, muncul Ika di balik pintu.
"Bu, ini kebayanya ….", Ika berbicara lirih, gemetar dan tertahan..
"Iyo, endi kebayaku, Nduk"
"Anu Bu kebayanya.. anu.. kebayanya gosong pas saya setrika".
"Hee… kok iso…"
Ika menuturkan bahwa ia tadi diminta menyiapkan kebaya untuk dipakai malam ini. Ika yang ingin mengambil hati bu Mar berinisiatif menyetrika kebaya tersebut. Rupanya kebaya brokat cokelat keemasan yang sedari dulu aturannya tak boleh disetrika, benar-benar tak tahan dengan suhu panas. Hanya beberapa detik kebaya itu hangus membentuk motif setrika pas tepat di bagian dada.
Bu Mar hanya sayup-sayup menerima penjelasan itu, kepalanya berat dan mendadak pandangannnya silau lalu berujung gelap, lemas lunglai lalu pingsan. Bu Mariani, istri almarhum Pak Darmono mantan menteri keuangan batal hadir di resepsi pernikahan putra presiden, Abas dan Aulia.
[[end]]
Langganan:
Postingan (Atom)




