Selasa, 13 September 2011

Cukup cukupilah ..

Sayangku..
Terkadang kita harus terima ketika telapak tangan kita hanya mampu menggenggam bintang..
Meski mata kita terus tertuju pada matahari..
Syukuri sayang, karena bintang pun tetap akan benderang..

Sayangku..
Terkadang kita harus tersenyum ketika sebenarnya keadaan mendesakmu menangis..
Syukuri sayang, setidaknya mereka di luar sana tak menyaksikanmu bersedih
Kau adalah buah buah ketegaran

Sayangku..
Terkadang sayap kita hanya mampu berkepak hingga langit kedua atau ketiga..
Sementara pandanganmu memaksakan berada di langit ke tujuh..
Terimalah sayang, ini sudah cukup tinggi dibandingkan yang lain..
Bukan menyerah tapi ini adalah cukup..

Sayangku..
Tak semua sesuai rencana
Hanya yang terbaik yang membesarkan hati jiwa
Aku cinta kau
Tak ada kesangsian lain yg bisa kita raih
Namun tidak sekarang..

Aku masih cinta kau..
Cukup cukupilah kurangmu..

Senja ini kau ku dekap...

Rabu, 07 September 2011

Alya, Aku dan Autis ...



Bukan perkara mudah ketika sore itu suami saya menjelaskan bahwa Alya baru saja didiagnosa autis oleh seorang psikiater di Cikarang. Hal itu sebenarnya menjawab pertanyaan saya selama ini mengapa perkembangan komunikasi Alya terpaut jauh dengan kawan-kawan sebayanya. Namun sebenarnya bukan jawaban itu pula yang saya ingin dengar mengenai kondisi Alya.

Saya pedih, saya akui itu. Toh sejak delapan bulan lalu saya mengikutsertakan Alya pada sebuah terapi bicara pada seorang psikolog sebelumnya, saya tahu Alya memiliki kekurangan. Tapi saya saat itu sedang punya semangat yang besar untuk segera menyelamatkan Alya agar tidak terlambat mendapatkan penanganan. Sebuah yayasan tumbuh kembang di Cibubur yang letaknya tak jauh dari rumah mengatur jadwal terapi Alya seminggu tiga kali. Saya berbagi tugas dengan ayahnya Alya, dua hari saya yang mengantar sementara satu hari sisanya ayahnya Alya. Syukur alhamdulillah jadwal kantor bisa disesuaikan, atasan memberi pengertian yang sangat membantu. Di sisi lain sebuah tawaran pekerjaan lain yang cukup menjanjikan terpaksa harus saya tolak mengingat kondisi Alya yang butuh banyak perhatian.

Sebuah buku tentang autis memberikan banyak motivasi pada saya. Bahwa autis bisa ditangani dengan terapi yang dilakukan secara rutin dan dini. Bahwa anak autis kelak bisa tumbuh mengikuti anak normal dan tidak perlu dikucilkan. Autis bukanlah gangguan jiwa, berbeda dengan down syndrome dan lain sebagainya. Saya sangat bersyukur dengan membaca buku ini, ada rasa lega dan optimis yang meletup-letup mengenai kondisi Alya.

~

Lalu hari demi hari berjalan. Saya, ayahnya Alya dan juga seorang baby sitter di rumah sangat antusias untuk menjalankan terapi di rumah. Kami saling bekerja sama satu sama lain. Mulai menyikat tubuh Alya dgn sikat halus, memijat, memasakkan makanan dengan menghindari pantangan anak autis, main puzzle, ayunan, berjalan di rumput dan semuanya..

Satu kali terapis Alya mengatakan bahwa Alya menurut observasinya bukanlah anak autis melainkan lebih ke anak hiperaktif dan lambat bicara. Pernyataan itu sungguh sangat melegakan saya. Rasanya ingin berteriak girang bahwa anak saya tidak autis dan tak lama lagi ia akan bisa sejajar dengan anak normal. Mimpi saya tata kembali. Saya yakin Alya akan jadi anak berprestasi, bisa sekolah di sekolah favorit, punya teman banyak, bisa ikut ekstrakurikuler sesuai dengan bakatnya hingga kelak akhirnya saatnya ia bisa membuat saya bangga..

Seorang sahabat ikut berlega hati dengan cerita saya. Namun belakangan ia kemudian berkata "Saya senang Alya tidak autis tapi lebih baik kita persiapkan mental jika kelak dia memang autis. Kita tetap optimis tapi tidak juga terlalu sakit jika kondisi ke depannya berbeda dengan apa yang kita harapkan". Saya mengangguk, saya tahu itu, dan saya tak mau memungkiri jika kelak memang Alya autis dan bukan sekedar hiperaktif. Seiring berjalannya waktu akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa dalam penanganannya, saya tidak ingin memberi nama apa yang sedang dialami Alya. Saya tidak peduli dia autis, hiperaktif, telat bicara atau apapun. Karena ini akan mempermainkan emosi dan harapan saya yang bisa melambung tinggi namun ada kalanya bisa down. Yang jelas dan penting saya jalankan terapi sebaik-baiknya.. Sebisa saya..

Dalam perkembangannya apa yang ditunjukkan Alya cenderung menunjukkan bahwa ia adalah autis dan saya sepenuhnya tak mengelak itu. Baiklah kalau memang putri cantik ini autis, kita tangani sama-sama. Saya bisa sangat wise, sabar dan tenang ketika menghadapi Alya. Saya bisa sangat berbesar hati bercerita pada semua orang bahwa ya anak saya Alya penderita autis but she will be fine. Saya bisa tersenyum, tertawa dan juga menertawakan kondisi ini. Saya tidak mau menangis, air mata terlalu mahal untuk jatuh demi kondisi seperti ini.
Tapi saya manusia, saya ada fase lelahnya juga. Kadang persediaan sabar saya habis juga ketika lelah dan menghadapi Alya dengan tingkah ajaibnya. Beberapa kali tangan ini mencubit lengan, paha Alya. Beberapa kali saya berteriak menangis jika dalam kondisi lelah Alya menambah beban pekerjaan saya. Tapi selalu hal ini berujung mengharukan. Alya ketika saya marah justru menangis dan lari memeluk saya untuk minta maaf. Saya terenyuh dan justru makin tersayat karena muncul pertanyaan mengapa Alya baru care ke saya kalau saya sudah emosi? Haruskah komunikasi kami dimulai dengan cara seperti ini dulu baru Alya merasa membutuhkan saya?.

Saat Alya terlelap tidur dia tak ubahnya malaikat kecil yang sangat manis. Saya mendekapnya dan bertanya "Al, kamu ngerti nggak sih Nak kalau Mama sayang kamu? Ngerti nggak sih Nak apa yang mama omongin selama ini? Alya sayang mama nggak sih,Nak?"..

Saya bukan super mom, saya juga bukan malaikat atau peri yang punya stok sabar bergudang-gudang. Tapi memang akhirnya saya sadar bahwa menghadapi Alya bukan sekedar bentuk terapinya saja yang dipentingkan tapi bagaimana kesabaran kita tetap bisa terpompa, konstan terjaga, tidak menurun dan harus bisa menekan emosi.Itu yang sekarang sedang saya pelajari dan memang bukan hal yang mudah. Biasanya pelarian saya adalah dengan berbagi cerita dengan sahabat dan juga menengadah pada Tuhan. Ada kalanya saya butuh waktu sendiri untuk sekedar menenangkan tubuh dan juga pikiran yang penat.

Satu kali saya bertemu dengan seorang Ibu dan juga anak perempuannya yang berusia empat tahun. Sang anak bercerita panjang lebar dengan ceriwisnya sementara sang Ibu menimpali dengan senyum dan beberapa jawaban atas pertanyaan putri kecilnya..

Saya tersenyum dan berdoa.. Semoga kelak saya dan Alya bisa seperti itu. Berbagi cerita..

Alya, Mama sayang kamu Nak...

Minggu, 31 Juli 2011

kala aku tak bertuan ..

Aku tidak ingin berkata-kata
Karena hanya akan melingkar-lingkar
Ada kalanya kau dan aku harus sadar
Kadang apa yang ada di hati dan alam pikiran
Tak bisa diungkapkan oleh abjad maupun kata dalam kamus

Aku hanya ingin bersandar
Di bahu kecilmu
Maaf kali ini aku tak menyunggingkan senyum
Kau tahu galau merampas semuanya

Dari sandaranku saja terjemahkan sebisamu
Ada beban yg ingin kubagi
Terjawab mengapa mataku kosong beberapa saat ini

Aku tak minta banyak, Sayang
Peluk aku
Mungkin aku akan tenang
Atau justru menangis menumpahkan sesak
Dan memelukmu erat, pasrah ikut arusmu

Tak perlu kau berkata banyak
Terima saja sandaran kepalaku di bahumu
Artinya besar..
Kau legakan sesak di seluruh duniaku

Aku tak bertuan sekarang ..
Aku digoyang bimbang
Dan padamu aku diam
Minta dicarikan tujuan..

Senin, 25 Juli 2011

beku ...

aku bertatap denganmu
tak lagi kutemukan segaris yang sama
mungkin kabur benangnya
pun juga sirna

aku membangun hangat
di tengah beku yang membekap
namun sama saja
tak ada es yang cair meski setetes

aku tak mau tengadah harap
tak lama lagi aku berpura-pura
jika memang sudah beku
ya sudah
mungkin usai waktu

aku bukan penunggu, sayang
hidupku harus tetap berlanjut
dengan maupun tanpamu

anai-anai.. ilalang
masa depan tak bertuan
cinta tak menghamba
tawa tak berirama

beku sudah sayang..

Kamis, 02 Juni 2011

kelak ...

Kelak kau dan aku
Akan tinggal di rumah nyaman tenang
Berhalaman luas
Bermusholla di sampingnya
Tempat kau akan mengimami aku, anakmu dan cucu-cucumu..

Berderet pohon rambutan, jeruk, durian dan nangka nan rindang
Tak kurang waktu kita bersama
Berbicara sore di teras belakang
Sambil mengunyah buah hasil kebun kita
Bersama secangkir teh manis bercorak bunga..

Mungkin kau tak akan berhenti mendengar ocehan dan omelanku
Kau tahu sayang, aku sebenarnya tidak benar-benar marah
Aku peduli padamu

Mungkin kau akan diam tersenyum menyimaknya
Dan beberapa detik pelukan akan redakan semua suaraku
Berderai tawa kita
Aku tanya kau sekali lagi :
"adakah yang jauh lebih sempurna dari ini?"
Kelak tak ada kerut di dahimu..
Yg ada adalah penanda kau makin bijak
Makin tenang di sisiku..
Yakin berada di pijakan tepat..

Sayangku..
Tak ada lagi yg kucari..
Kau penutup segala kekurangan..

Kelak sayang, kelak ..

Selasa, 17 Mei 2011

tak beranjak darimu, alya..

Kenapa kau resah?
Bukankah aku di sini ..
Kenapa gundahmu tak terarah?
Bukankah hangatku masih merasuk hingga tulang darahmu..

Sudahlah sayang..
Kipas-kipasi pergi kunang remang
Usir buram resah temaram
Aku di sini
Sungguh tak beranjak..

Jangan menangis..
Jangan merintih..
Jangan mengeluh..

Mama di sini, Alya..

Minggu, 15 Mei 2011

Pagi..

apakah perlu aku meminta lagi pada Tuhan
kurasa tak ada lagi yang aku ingini
tak pernah sebelumnya ku temui pagi seperti ini
ini seperti sempurna..

sempurna ketika kau pagi di sampingku
berada di atas ranjang yang sama
lalu kilas-kilas matahari menerangi pipi, mata dan keningmu
tersipu malu mengintip dari tirai

aku terpaku dengan pemandangan ini
ketika mata itu berkedip terusik
badanmu mengelak dibangunkan matahari
menggeliat malas mengusirnya

kau tahu sayang..?
pagi ini pagi sempurna
tak terbeli oleh apapun
tak tercela setitik pun
tak tertukar dengan siapa pun..

"selamat pagi sayang, pagi ini aku masih mencintaimu"